Selasa, 05 Juli 2011

Sosiologi Industri


PENDAHULUAN
Abstrak
Perusahaan Taksi di wilayah Jakarta saat ini semakin berkembang pesat, ditandai dengan jumlah perusahaan taksi yang semakin banyak. Sehingga berdampak pada persaingan diantara perusahaan taksi yang ada, untuk itu setiap perusahaan taksi memberikan berbagai fasilitas kepada pelanggannya, fasilitas ini diharapkan untuk menarik perhatian dari para pelanggannya. Namun tidak bisa dipungkiri supir taksi sebagai bagian dari perusahaan taksi memiliki masalah dalam menjalankan profesinya, karena supir taksi diberikan target setoran yang begitu tinggi, ditengah-tengah semakin sulitnya mencari penumpang saat ini. Namun ada juga beberapa perusahaan taksi yang memberikan keringanan kepada supirnya agar supir tersebut merasa betah dan nyaman bekerja di perusahaannya.
Data dan Analisis Perusahaan Taksi
            Pada zaman sekarang terutama di wilayah perkotaan, kelompok sosial yang timbul atas dasar latar belakang profesi dan pekerjaan berkembang menjadi semakin beragam. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh penghasilan, salah satunya adalah profesi sebagai supir taksi. Sebagai modal transportasi umum di Ibukota Jakarta, taksi bisa digolongkan sebagai media transportasi umum untuk golongan masyarakat menengah ke atas yang dipercaya oleh masyarakat umum, alasannya antara lain dan terutama dengan menggunakan taksi dapat menghemat waktu dibanding menggunakan kendaraan umum.
Sebagai salah satu alat transportasi umum, perusahaan taksi saat ini semakin berkembang dan jumlahnya semakin banyak, setiap perusahaan taksi menawarkan berbagai kelebihan dan beberapa fasilitas untuk menarik perhatian dari masyarakat sebagai pengguna taksi. Dengan kian bertambahnya perusahaan taksi, maka kebutuhan akan supir taksi juga meningkat, persyaratan yang diutamakan dibeberapa perusahaan taksi yang terutama adalah dapat mengemudi dan memiliki pengalaman dibidang mengendarai mobil. Selain menawarkan fasilitas kepada masyarakat, perusahaan taksi juga memberikan fasilitas kepada para supir taksinya, gunanya untuk membuat supir taksi nyaman dan betah dengan pekerjaan yang ditekuninya.
Disaat-saat seperti sekarang ini sangat sulit untuk mencari pekerjaan, dan berpengaruh pada permintaan lowongan pekerjaan sebagai supir taksi. Kebanyakan supir taksi yang ada saat ini adalah masyarakat yang dulunya sudah menjalani profesi yang beragam dan berbeda-beda, ada yang sebelumnya sebagai pedagang, Pegawai Negeri Sipil dan Swasta. Bahkan saat sudah berprofesi sebagai supir taksi, tidak jarang supir taksi berpindah-pindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, dengan alasan untuk mencari kenyamanan yang lebih baik lagi, kenyamanan yang dapat diartikan dari segi materi dan non materi. Dari segi materi supir taksi biasanya akan membandingkan dan mencari perusahaan yang gaji atau bonusnya lebih besar. Dan non materi adalah berhubungan dengan interaksi dan kebijakan yang ditentukan oleh manajemen perusahaan.
Kami mendapat tugas tentang Perusahaan Taksi akan menjelaskannya lebih dalam dan lebih jelas lagi, yang bahannya kami dapatkan dari penelitian di lapangan melalui observasi dan wawancara secara langsung agar mendapatkan informasi yang akurat. Kami memiliki tujuh orang supir taksi sebagai informan kami yang terdiri dari masing-masing perusahaan taksi yang berbeda. Melalui tulisan ini kami akan menjelaskan motivasi dari supir taksi memilih pekerjaan sebagai supir taksi, interaksi dan hubungan kerja supir taksi pada sesama supir taksi dan kepada pihak manajemen perusahaan taksi, mendeskripsikan setiap masalah ataupun kendala yang ada di dalam perusahaan dan supir taksi tersebut, menjelaskan peran supir taksi tersebut di dalam keluarganya, kemudian kami akan menjelaskannya dengan beberapa teori yang ada. Anggota kelompok kami sebanyak tujuh orang masing-masingnya mencari informan supir taksi dari perusahaan yang berbeda-beda, dan kami membandingkan tiap data yang didapatkan seperti tiap informan dan perusahaan yang berbeda-beda. Karena salah satu informan kami adalah supir taksi perempuan, kami juga akan menganalisisnya dari perspektif gender. Apakah ada pembedaan perlakuan dan jam kerja antara supir taksi yang berjenis kelamin pria dan wanita. Alasan para informan memilih bekerja sebagai supir taksi hampir sama antara satu dengan yang lainnya. Seperti Bapak Bahri yang memilih perkerjaan tersebut karena ia merasa tidak memiliki keahlian lain selain mengemudi.
Untuk rekrutmen calon pengemudi baru sebagain besar perusahaan memberi persyaratan untuk mempunyai pengalaman kerja dan bisa mengemudi tentunya. Perusahaan taksi menggunakan desain kerja bagi karyawannya, yakni menyesuaikan dengan keahlian. Hal  ini dikarenakan untuk meminimumkan waktu serta biaya training perusahaan. Selain itu menyertakan Surat Permohonan Kerja, Keterangan Tanda Penduduk, Surat Ijin Mengemudi, Kartu Keluarga, Surat Nikah, Foto, Surat Keterangan Domisili, pengalaman, dan Surat Keterangan Kelakuan Baik.
Berikut ini adalah tabel perbandingan beberapa informan yang kami dapatkan
Nama pengemudi
Perusahaan
Lama bekerja
System pembagian upah
System kepemilikan mobil
Jam bekerja
Fasilitas yang diberikan
Daniel Barus
Indah taxi
10 tahun
setoran
Bisa menjadi milik pribadi
24 jam
Mess dan pangkalan/pool
Alwi
Blue bird
3 tahun
komisi
Milik perusahaan
18 jam
Jaminan kesehatan, beasiswa untuk anak berprestasi, bonus
Syamsudin
Golden taxi
6 tahun
setoran
Milik perusahaan
24 jam
Tidak ada fasilitas yang di berikan
Yono
Express taxi
12 tahun
setoran
Bisa menjadi milik pribadi
24 jam
Mess dan asuransi kesehatan
Herman Bahri
TaxiKu
3 tahun
komisi
Milik perusahaan
20 jam
Jaminan kesehatan, bonus, mess untuk pengemudi
Faris mulyono
Cab Taxi
3 tahun
setoran
Milik perusahaan
7 jam

Sari
Cipaganti
5 bulan
setoran
Milik perusahaan
15 jam
Beasiswa utk anak berprestasi

Dari tabel diatas kami dapat membandingkan antara sistem upah yang menggunakan setoran dengan komisi, untuk perusahaan yang menggunakan system setoran pengemudi biasanya mempunyai kendala tersediri seperti bila pengemudi tidak mencapai target yang telah ditetapkan oleh perusahaan  maka pengemudi harus menutupi kekurangan setoran dengan cara menombok, dengan uang pribadi, sedangkan untuk system komisi untuk mendapatkan bonus maka para pengemudi taksi harus memperoleh target minimum.
Untuk sistem kepemilikan kendaraan ada sebagian dari informan kami yang menyatakan bahwa sistem kepemilikan dapat menjadi milik pribadi, seperti pada perusahaan taksi Express kita dapat memiliki mobil tersebut secara pribadi dengan cara menyetorkan uang muka sebesar Rp 8.000.000 lalu di akumulasi oleh target setoran. Dan sebagian besar kepemilikan kendaraan tidak dapat menjadi milik pribadi namun menjadi milik perusahaan.
Perusahaan taksi biasanya menerapkan jam kerja yang di luar batas normal, seperti ada beberapa informan dari kami yang harus bekerja selama 24 jam dikarenakan hasil pendapatan selama sehari tidak memenuhi target yang ditetapkan oleh perusahaan. Karena di kejar setoran membuat ada sebagian dari pengemudi yang berlaku curang kepada penumpangnya seperti hanya mau melayani penumpang yang jarak jauh serta memainkan argo sehingga menjadi mahal yang sering kita sebut “argo kuda”.
Perusahaan taksi biasanya tidak membedakan antara pengemudi laki-laki maupun pengemudi perempuan, mereka diperlakukan sama dari jam kerjanya hingga besarnya setoran yang harus disetorkan. Yang terpenting untuk sebuah perusahaan taksi adalah setoran yang telah ditetapkan dapat terpenuhi setiap harinya. Mengingat pekerjaan sebagai supir taksi mempunyai resiko bekerja yang cukup besar di perjalanan. Maka bila terjadi kecelakaan ada beberapa perusahan yang akan menanggung biaya kerusakan atau pergantian armada taksi yang rusak, adapula perusahaan yang membebankan biaya yang ditanggung antara perusahaan 50% dengan pengemudi 50% bila terjadi kerusakan, adapula perusahaan yang tidak mau menanggung beban kerusakan bila terjadi kecelakaan.
Makna kerja yang dapat kita ambil melalui wawancara oleh beberapa informan sebagian besar adalah hampir sebagian besar berorientasi untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarganya, walaupun demikian para informan kami tidak hanya berfikir besarnya upah atau komisi yang akan di peroleh, seperti bapak Daniel dan bapak Bahri mereka lebih mementingkan kenyamanan yang mereka perlukan, oleh karena itu tidak jarang mereka harus berpindah perusahan taxi yang satu denga perusahan taxi yang lainnya.
Analisa Teori Sosiologi Industri
Hubungan antara Perusahaan dan Pengemudi Taksi
            Hubungan Industrial Perusahaan taksi terdiri dari kelas sosial yakni pihak manajemen perusahaan sebagai kaum borjuis, supir taksi sebagai kaum proletar. Kelas sosial memang sengaja dikembangkan di lingkungan perusahaan taksi sehingga pemikiran tersebut tertanam kuat di dalam diri kelas ssoial tersebut. contohnya, konsep untuk memberikan kenyamanan dan pelayanan maksimal bagi pelanggan taksi sudah ditanam sejak supir taksi pertama kali ingin melamar ataupun saat ada training/pelatihan. Hal itu mendorong setiap pihak mulai dari manajemen perusahaan dan supir taksi menjalankan tugas dan peranannya dengan maksimal demi terwujudnya kenyamanan bagi pelanggannya. Di dalam industri perusahaan taksi juga ada aturan yang dibuat untuk mengatur perilaku anggotanya, setiap supir taksi harus memenuhi setoran yang telah ditentukan per harinya, dan supir taksi harus mengembalikan mobilnya ke perusahaan diwaktu yang telah disepakati sebelumnya, apabila dilanggar maka aka nada konsekuensi dari apa yang dilakukan, bisa berbentuk hukuman atau denda.
            Pihak manajemen memperhatikan kebutuhan sosial dari supir taksi sebagai karyawan perusahaannya dengan memberikan kepuasan agar mereka merasa penting di perusahaannya, hal ini akan berdampak kepada sikap kerja supir taksi tersebut. supir taksi akan merasa nyaman bekerja di perusahaannya, karena pihak perusahaan begitu peduli dan mengerti akan kebutuhannya. Setiap keluhan yang datang akan sesegera mungkin harus ditanggapi dan diselesaikan oleh pihak perusahaan, maka konflik dalam pekerjaan supir taksi akan dapat dihindari bila hal ini ada dijalankan di industri perusahaan taksi.
Beberapa perusahaan taksi akan memberikan kenyamanan bagi pengguna jasanya dan sangat mengedepankan nilai nilai kejujuran, keramahan, keamanan dan kebersihan dalam menjalani profesinya tersebut. Misalnya saja pada perusahaan Bue Bird yang mengembalikan barang-barang tertinggal di taksinya kepada pemiliknya.
Alienasi Sang Pengemudi taksi
            Inti seluruh teori Marx adalah proposisi bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan kebutuhannya tergantung pada kegiatan produktif di mana secara aktif orang terlibat dalam mengubah lingkungannya. Namun, kegiatan produktif itu mempunyai akibat yang paradoks dan ironis, karena begitu individu mencurahkan tenaga kreatifnya itu dalam kegiatan produktif , maka produk-produk kegiatan ini memiliki sifat sebagai benda obyektif yang terlepas dari manusia yang membuatnya.
            Tentang alienasi menurut Marx merupakan akibat dari hilangnya kontrol individu atas kegiatan kreatifnya sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Pekerjaan dialami sebagai suatu keharusan untuk sekedar bertahan hidup dan tidak sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan kreatifnya. Alienasi melekat dalam setiap sistem pembagian kerja dan pemilikan pribadi, tetapi bentuknya yang paling ekstrem ada di dalam kapitalisme, dimana mekanisme pasar yang impersonal itu, menurunkan kodrat manusia menjadi komoditi, dilihat sebagai satu pernyataan hukum alam dan kebebasan manusia. bentuk ekstrem alienasi itu merupakan akibt dari perampasan produk buruh oleh majikan kapitalisnya.
            Mayoritas pengemudi taksi hampir kehilangan kreativitasnya sendiri terhadap jasa yang diberikannya. Sistem setoran maupun komisi membuat para pengemudi taksi semakin mengalienasi dirinya. Terlihat komisi merupakan sistem yang baik diterapkan di perusahaan taksi, namun ternyata sistem komisi membuat para pengemudi taksi gemar bekerja bukan karena mereka mencintai profesi tersebut tapi dilandaskan atas pemenuhan kebutahan hidup. Begitupun sistem setoran para pengemudi bekerja dengan batas-batas yang tidak ditentukan, dan yang ada di benak para pengemudi ialah orientasi mengejar target setoran yang ditetapkan oleh perusahan.
            Makna pekerjaan sebagai supir taksi adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup, hampir semua dari informan kami memiliki alasan karena untuk  memenuhi kebutuhan hidup maka mereka menekuni profesi sebagai supir taksi, kebutuhan hidup yang semakin meningkat diharuskan para supir taksi ini untuk lebih bekerja keras dalam mencari pendapatan.
            Marx menekankan bahwa alienasi kelihatannya benar-benar tidak dapat dielakkan dalam pandangan mengenai kodrat manusia yang paradoks. Di satu pihak manusia menuangkan potensi manusiawinya yang kreatif dalam kegiatannya, dilain pihak, produk-produk kegiatan kreatifnya itu menjadi benda yang berada di luar kontrol manusia yang menciptakannya yang menghambat kreativitas mereka selanjutnya. Bagi Marx alienasi akan berakhir, bila manusia mampu untuk mengungkapkan secara utuh dalam kegiatannya untuk mereka sendiri, sehingga ekspolitasi dan penindasan tidak menjangkiti manusia lagi.
Kapitalisme- Karl Marx
            Pihak perusahaan sebagai pemilik modal produksi yang mempekerjakan supir taksi dengan eksploitasi yang tidak terlihat bagi masyarakat awam. Padahal hal ini justru nyata terjadi di pekerjaan supir taksi tersebut, modal produksi seperti mobil, fasilitas adalah milik dari pihak perusahaan. Mobil tersebut diberikan hak pemakaiannya kepada supir untuk digunakan mencari pendapatan. Status supir taksi ini adalah sebagai buruh dari pihak pemilik modal. Para supir taksi harus bekerja keras dalam memenuhi setoran per hari nya yang beraneka ragam, dan termasuk golongan yang tinggi apabila kita melihat semakin banyaknya perusahaan taksi di Jakarta, jenis besaran setoran setiap perusahaan taksi ada yang Rp.220.000/harinya bahkan bisa mencapai Rp.400.000/harinya padahal komisi yang diberikan sangat kecil, hanya berkisar 15%-25%. Apabila supir taksi tidak bisa memenuhi target setoran per harinya maka supir taksi akan menggantinya dengan uang pribadi, kalau tidak ada uang pengganti maka supir taksi itu akan menimbun utang pada pihak perusahaan, apabila hutang semakin besar dan setoran per harinya selalu tidak mencukupi, alasan pemecatan siap menanti bagi supir tersebut. Adanya pemaksaan dari perusahaan taksi yang membebankan setoran sepenuhnya kepada supir taksi tersebut, terlihat bentuk eksploitasi pekerjaan di dalam profesi sebagai supir taksi.
Konflik Sosial
            Marx berargumen bahwa manusia tidak akan menjadi mahluk merdeka dan akan terus terasing, karena apapun yang dilakukan pada hakekatnya adalah di bawah kendali sebuah sistem mekanistis. Misalnya saja di perusahaan taksi status pekerjanya ada yang berstatus karyawan tetap dan kontrak. Untuk yang berstatus kontrak biasanya dikontrak untuk masa 5 tahun, dan dapat diperpanjang lagi dengan melihat kinerja dari setiap supir taksi. Sistem kontrak ini sangat memberatkan supir taksi, karena pekerjaan atau profesi mereka hanya untuk beberapa tahun saja, dan saat memperpanjang kontrak belum tentu dapat diterima lagi, karena perusahaan akan mendatangkan tenaga-tenaga baru, kesempatannya sangat kecil sekali. Dan untuk karyawan tetap berpengaruh kepada supir taksi dalam kebebasannya, supir taksi merasa dikekang dengan berbagai aturan yang ditentukan oleh perusahaan. Apabila mengundurkan diri akan berdampak pada konsekuensi dalam membayar uang jaminan kepada perusahaan yang telah disetujui saat diterima di awal bekerja.

Sosiologi Organisasi


BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dalam kajian tentang kepemimpinan organisasi, kami memilih organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta sebagai objek penelitian kami karena BEM UNJ merupakan organisasi pemerintahan mahasiswa (OPMAWA) di tingkat universitas, elemen yang ada di organisasi tersebut berasal dari setiap jurusan dan fakultas. Sosok pemimpin tentu sangat penting bagi kemajuan sebuah organisasi yang dipimpinnya, dimana berkembang atau tidaknya masyarakat tersebut tergantung dari sejauh mana pemimpinnya tersebut mengimplementasikan visi dan misinya ke dalam sebuah realisasi program kerja organisasinya. Namun hal tersebut tentu tergantung pula dari karakter dan jiwa kepemimpinan individu pemimpin itu sendiri. Ketua BEM UNIVERSITAS sebagai sebuah jabatan publik mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, tentu mempunyai wewenang dan tanggungjawab terhadap lingkungan Universitas Negeri Jakarta, sesuai dengan regulasi yang berlaku (hukum formal). Sebagai sebuah pemimpin yang hidup di alam demokrasi, tentunya gaya kepemimpinan pun harus bisa disesuaikan dengan kondisi tersebut. Sebab sebagai sebuah jabatan publik yang dihasilkan dari pemilihan secara langsung oleh anggota/mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, setiap keputusan atau kebijakan tentu tidak boleh lepas dari aspirasi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Alasan kami memilih BEM UNJ adalah karena Organisasi BEM UNJ sangat menarik untuk diteliti dan dipahami lebih dalam lagi, termasuk kami yang sangat tertarik untuk mengetahui lebih luas tentang organisasi BEM UNJ, seperti pemimpin dalam organisasi, gaya kepemimpinan, realisasi visi dan misi organisasi, sejarah berdiri BEM UNJ, profil dan hubungan kerja struktur pengurus BEM UNJ dan kepada BEM tiap jurusan dan BEM tiap Fakutas. Selain itu kami juga ingin mengetahui partisipasi dari mahasiswa di UNJ terhadap keberadaan organisasi BEM UNJ, dan interaksi dari tiap  pengurus BEM UNJ termasuk ketua umum kepada mahasiswa UNJ. Dengan melihat berbagai macam gaya kepemimpinan, kami ingin mengetahui bagaimana gaya dan jiwa kepemimpinan Ketua BEM Universitas Negeri Jakarta pada masa pemerintahan 2010-2011 yang bernama Muhamad Hadi Kusumah.
BAB II
PROFIL BEM UNJ
BEM UNJ letak sekretariatnya di Gedung G Kampus UNJ. Dalam menjalin komunikasi dengan organisasi Fakultas dan Jurusan. Ketua BEM UNJ saat ini adalah Muhamad Hadi Kusumah. BEM UNJ terdiri dari lima Departemen yang dipimpin oleh setiap Kepala Departemen, dan dua biro yang dipimpin Ketua Biro. Ketua organisasi BEM UNJ memiliki Forum Ketua Organisasi yang dapat merangkul organisasi di tingkat fakultas maupun jurusan. PSDM memiliki Aliansi PSDM UNJ agar kebijakan dan konsep pengkaderan UNJ dapat diterapkan juga di tingkat fakultas dan jurusan sebagai guna adanya keberlanjutan estafet pergerakan. Departemen Sosial Politik memiliki Green Force yang siap sedia memperkuat jaringan gerakan mahasiswa dan memperluasnya, melakukan penyikapan masalah sosial. Advokasi Memiliki Tim Pembela Mahasiswa sebagai tim khusus untuk melayani dan Advokasi Mahasiswa khususnya untuk menunjang kebutuhan Akademik dan penunjang pelayanan lembaga. Biasanya TPM ini merupakan wakil dari mahasiswa-mahasiswa tingkat fakultas maupun jurusan.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta mempunyai sejarah perjalanan yang cukup panjang. Dari mulai perubahan nama dari Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, BEM IKIP dan kemudian BEM UNJ, sampai eksistensi keberadaan mereka bagi UNJ itu sendiri bahkan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, mahasiswa merupakan agen of change. Eksistensi mahasiswa mencuat setelah kejadian ’98, yang mana rakyat melalui mahasiswa menuntut adanya reformasi. Saat itu BEM UNJ masih bernama Senat Mahsasiswa IKIP Jakarta (SMIJ). Dibawah pimpinan Henri Basel (mahasiswa IKIP Jakarta), gabungan mahasiswa yang tergabung dalam FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahassiswa Se-Jakarta) pada tanggal 18 Maret 1998 menjadi kelompok pertama yang mendatangi gedung DPR/MPR RI.
Akhirnya Senat Mahasiswa IKIP Jakarta pun berubah menjadi BEM UNJ (Badan Ekssekutif Mahasiswa IKIP Jakarta) pada tanggal 31 Oktober 1998 setelah dilakukannya Musyawarah Besar Luar Biasa (MUBESLUB). Perubahan Senat Mahasiswa IKIP Jakarta menjadi BEM IKIP Jakarta dikarenakan bentuk Senat Mahasiswa yang merupakan produk Kepmen no 0457/U/1990 menjadikan Senat Mahasiswa tidak independen, tidak aspiratif, serta terkesan terkooptasi oleh rektor.[1] Pada tanggal 28 Desember 1999, setelah diadakannya Pemilihan Raya, akhirnya terpilihlah Yudhi Rohman sebagai Ketua BEM UNJ. Selain perubahan nama dari BEM IKIP Jakarta (BEM IJ) menjadi BEM UNJ, membawa pengaruh signifikan terhadap hal-hal lainnya juga. Seperti penggantian nama Presiden BEM menjadi
                                                                                                                    Foto dengan Ketua BEM UNJ Hadi
Ketua Umum dan nama-nama menteri berganti menjadi Kepala Departemen. Setelah kepengurusan BEM UNJ oleh Yudhi Rohman, maka digantikan oleh kepengurusan Dedi Supriyadi. Setelah masa jabatan Dedi habis, BEM UNJ diketuai oleh Sardi Effendi. Berikut kepengurusan setelahnya: BEM UNJ di bawah kepemimpinan Defrizal Siregar, BEM UNJ di bawah kepemimpinan Rahmat Arief Kurniawan, BEM UNJ di bawah kepemimpinan Karyadi, BEM UNJ di bawah kepemimpinan Akmal Diky Hujjatul Islam
BAB III
ANALISIS ORGANISASI BEM UNJ
Secara umum gaya kepemimpinan dikategorikan kedalam 3 jenis, diantaranya : pertama, Otoriter (Authoritarian Leadership), kekuasaan otoriter berdasarkan pada kekuasaan yang mutlak dan penuh, sang pemimpin dalam kepemimpinan ini disebut juga sebagai diktator, bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan prilaku orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditetapkannya. Kedua, Demokratis (Democratic Leadership), yakni gaya atau cara memimpin yang demokratis, dan bukan karena dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Gaya yang demokratis seperti ini misalnya saja si pemimpin memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk mengemukakan pendapatnya, saran dan kritikkannya dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi pada umumnya. Ketiga, Kepemimpinan Bebas (Laisez Faire Leadership), Dalam kepemimpinan jenis ini, sang pemimpin biasanya menunjukkan suatu gaya dan prilaku yang pasif dan juga seringkali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Disini kami akan melihat bagaimana sikap yang akan diambil Ketua BEM UNJ bila sedang menghadapi masalah dalam organisasinya, lalu apakah Ketua BEM UNJ mau memberikan kesempatan untuk para anggotanya mengeluarkan pendapat pada saat forum berlangsung? Dan bagaimana pendapat para anggota pengurus BEM UNJ terhadap sikap kepemimpinan Ketua BEM UNJ. Setelah kami melakukan beberapa observasi dan wawancara dengan Ketua BEM UNJ, kami mengidentifikasi Pemimpin organisasi BEM UNJ termasuk pada gaya kepemimpinan demokratis karena di dalam BEM UNJ sangat terbuka kesempatan untuk menyuarakan saran, kritikan, dan pendapat baik itu dari internal BEM UNJ itu sendiri dan dari seluruh mahasiswa di UNJ, tidak ada dominasi ataupun warna kepemimpinan yang diktator di dalam organisasi tersebut, Ketua BEM UNJ juga sangat dekat kepada setiap pihak, yakni Seluruh ketua BEM Fakultas dan Jurusan, dan organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di gedung G.
Pendekatan Organisasi
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, BEM UNJ menggunakan pendekatan modern dalam menjalankan organisasi. Dalam Pendekatan Modern menyatakan bahwa yang dimiliki saat ini bukan teori mengenai organisasi tetapi way of thinking atau cara berfikir mengenai organisasi, cara melihat dan menganalisa secara lebih tepat dan mendalam, yang dilakukan melalui keteraturan atau regularitas perilaku organisasi, yang hanya berlaku untuk suatu lingkungan atau kondisi tertentu. Dalam hal ini BEM UNJ menjadi wadah perjuangan mahasiswa yang kontributif dan prestatif, sebagaimana yang tercantum dalam visi BEM UNJ itu sendiri. Diwujudkan melalui budaya baca,diskusi, dan tulis. BEM UNJ juga Menciptakan budaya kerja lembaga yang sehat, produktif,dan professional. Mengoptimalisasi pelayanan dan advokasi mahasiswa UNJ dibidang akademik maupun non-akademik. Menjalin dan menjaga kerjasama positif dengan berbagai lembaga intra maupun ekstra kampus.  Desain Stuktur BEM UNJ
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi terbentuk berdasarkan lima bagian organisasi yaitu Strategic Apex, Operating Core, Middle Line, Technostructure, Support Staff. Namun, ke lima bagian dasar tersebut tidak selalu ada secara lengkap dalam sebuah organisasi. Hal ini dikarenakan berbedanya ukuran dan teknologi yang diterapkan pada setiap suatu organisasi.
BEM UNJ merupakan sebuah organisasi terstruktur. BEM UNJ menurut peneliti memiliki lima elemen terstruktur tersebut. Pertama Strategic Apex yaitu pimpinan tingkat puncak yang diberi tanggungjawab keseluruhan untuk organisasi. Tugas utama mereka adalah menegaskan bahwa visi dan misi organisasi berjalan secara efektif dan merekrut orang-orang untuk melakukan pengendalian organisasi. Dalam hal ini BEM UNJ memiliki Hadi Kusuma sebagai ketua organisasi BEM UNJ. Ketua organisasi bertanggung jawab atas seluruh kegiatan BEM UNJ baik yang bergerak di bidang akademik maupun non-akademik. Segala kegiatan harus diketahui dan disetujui oleh ketua organisasi BEM UNJ, dan mengacu kepada visi dan misi organisasi BEM UNJ tersebut. BEM UNJ Berpartisipasi dalam pengkritisan dan pengawalan kebijakan-kebijakan kampus yang erat kaitannya dengan hak-hak mahasiswa. Berpartisipasi dalam pengkritisan dan pengawalan kebijakan-kebijakan DKI Jakarta, dan Nasional yang berkaitan dengan hak-hak mendasar masyarakat. Memberikan kontribusi dalam memonitoring dan mengembangkan organisasi di tingkat fakultas dan jurusan. Kedua adalah Operating Core terdiri dari Kepala-Kepala Divisi yang menghasilkan pekerjaan inti serta menghasilkan kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa baik kegiatan akademik maupun non-akademik. Beberapa divisi-divisi yang terdapat dalam struktur organisasi BEM UNJ ialah PSDM berfungsi sebagai pembuat kebijakan dan konsep pengkaderan yang terintegrasi guna adanya keberlanjutan estafet pergerakan serta memiliki mekanisme fund rising sebagai penyokong gerakan organsisasi. Litbang berfungsi sebagai pembuat kebijakan pengawasan, peningkatan dan tindakan terhadap etos kerja pengurus. Ketiga Middle Line line  merupakan pihak yang menghubungkan antara strategic apex dan operating core. Dalam pelaksanaannya, pengawasan langsung membutuhkan kontak pribadi antara ketua lembaga dan kepala divisi, sehingga dapat dikontrol dengan baik. Jadi, yang bertindak sebagai middle line dalam BEM UNJ adalah Kepala-kepala departemen. Beberapa departemen yang terdapat dalam struktur BEM UNJ ialah Departemen Dalam Negeri yang berfokus kepada kerja urusan dalam negeri seperti komunikasi, pengawasan, dan penyikapan kebijakan kampus, hubungan dengan birokrat kampus dam masalah-masalah internal UNJ hubungan antara Elemen mahasiswa di UNJ (Opmawa dan UKM) dan pengkaderan seperti Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas. Departemen Advokasi memiliki fokus kerja melayani dan Advokasi Mahasiswa khususnya untuk menunjang kebutuhan Akademik, Memiliki sistem Informasi yang terintegrasi guna menunjang pelayanan Lembaga. Departemen Pendidikan memiliki fokus kerja  mengembangkan isu-isu pendidikan baik internal maupun eksternal UNJ dengan melakukan penyikapan di dalamnya, melakukan kajian-kajian pendidikan kontemporer, optimalisasi tim Education Watch, dan membuat Blue Print peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dan pendidikan alternatif. Departemen Sosial Politik memiliki fokus kerja  menyikapi perkembangan sosial politik terkini dengan pernyataan sikap atau kajian yang diadakan seperta: BBM, memperkuat basis masa dengan adanya tim Aksi Green Force yang siap sedia memperkuat jaringan gerakan mahasiswa dan memperluasnya, melakukan penyikapan masalah sosial. Depatemen Kominfo memiliki fokus kerja agar terciptanya sarana media informasi BEM UNJ seperti buletin Gemas, Website yang on-line dan email yang produktif. 
Keempat adalah technostructure. Mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan bentuk standarisasi tertentu dalam organisasi. BEM UNJ sedikit mengadopsi sistem pemerintahan Negara BEM merupakan Badan Eksekutif Mahasiswa. Jika ada eksekutif maka ada legislatif atau dalam organisasi kampus UNJ yang berperan sebagai pengawas ialah Majelis Tinggi Mahasiswa atau disingkat dengan MTM.  MTM berfungsi membentuk peraturan perundang-undangan, pemilihan ketua BEM UNJ serta standarisasi kegiatan BEM UNJ baik dari segi waktu maupun efektivitas kinerja BEM UNJ. Kelima, support staff adalah memberi jasa pendukung kepada organisasi. BEM UNJ memiliki mitra kerja untuk memberikan kontribusi dalam memonitoring dan mengembangkan organisasi di tingkat fakultas dan jurusan.
Variabel KepemimpinanèSifat dan Keahlian Pemimpin
MOTIVASI dan MANAJERIAL, Peran Ketua Organisasi BEM UNJ mampu bekerja sama dengan para anggota BEM UNJ dan mampu menjalin dan membina hubungan yang baik dengan mahasiswa. Perwakilan-perwakilan mahasiswa dari setiap fakultas maupun jurusan pun dapat menampung aspirasi mahasiswa, walaupun terkadang aspirasi tersebut terkadang tidak terwujud. Dimulai dari rapat kerja yang mampu merombak ulang visi misi BEM UNJ itu sendiri. Pada kepemimpinan yang sekaranng BEM UNJ mampu mendeklarasikan sebagai BEM yang dapat menjadi wadah pergerakan bagi mahasiswa. BEM UNJ turut Berpartisipasi dalam Proses Pengembangan kampus, baik melalui tindakan nyata maupun pewarnaan terhadap Kebijakan Kampus. Memberikan pelayanan dan advokasi terhadap hak-hal mendasar Mahasiswa dalam bidang akademik maupun non-akademik. Berpartisipasi dalam pengkritisan dan pengawalan kebijakan-kebijakan kampus yang erat kaitannya dengan hak-hak mahasiswa, kepentingan masyarakat daerah DKI dan nasional, berkontribusi memonitoring dan mengembangkan organisasi di tingkat fakultas dan jurusan dengan membudayakan Baca, Diskusi, dan Tulis.
KEPERCAYAAN DIRI, Berawal dari tanggapan positif mahasiswa mengenai Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA), maka BEM merupakan struktur yang sedikit diadopsi oleh teman-teman  mahasiswa sebagaimana sistem pemerintahan yang sedang berlangsung di Negara ini. Organisasi mahasiswa saat ini mampu memberikan gambaran kehidupan sesungguhnya bahkan memfasilitasi kehidupan demokrasi. Bagi para anggota Organisasi mahasiswa dapat menjadi ajang pembelajaran bagi setiap individu untuk lebih percaya diri menatap masa depan. Mahasiswa tidak sepatutnya mengasingkan diri dari masyarakat namun seharusnya mahasiswa terjun ke masyarakat agar terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. TINGKAT KEKUATAN, Menunjuk pada angket MTM tahun 2010. Mahasiswa mulai merasakan adanya kebermanfatan BEM UNJ. Sekitar 50% - 60% responden mengatakan bahwa adanya kebermanfataan yang diberikan oleh BEM UNJ. Awal kepengurusan para pengurus melakukan kunjungan ke setiap Organisasi Mahasiswa yang berada dalam lingkungan kampus. Mengundang dan menjalin kominikasi dengan teman-teman mahasiswa yang berkecimpung di organisasi eksternal kampus, merupakan satu cara untuk membangun kekuatan bagi BEM UNJ. Akhirnya, saat MPA tahun 2010 terwujud lahir  konsep MPA UNJ SATU. KEDEWASAAN EMOSIONAL, Setiap pengurus menjadi panutan bagi pengurus lainnya. Beberapa pengurus memiliki kompetensi memotivasi sehingga tak heran pengurus tersebut menjadi teman cerita berbagi kisah bagi pengurus lain. Ketika ada konflik individu pengurus yang memiliki kompetensi memotivasi inilah yang menjadi penengah dan me-mediasi masalah agar cepat terselesaikan. KEAHLIAN TEKNIS, Kegiatan-kegiatan BEM UNJ merupakan hasil dari penyebaran angket. Kebanyakan kegiatan merupakan solusi dari keluhan mahasiswa. Beberapa kegiatan di adakan dengan melihat segi momentumnya, segi waktu, dan analisa kebutuhan. Beberapa program kerja sempat mundur dari hasil keputusan rapat kerja atau bahkan double kegiatan. Namun hal ini dapat diselesaikan melalui rapat pimpinan. MTM sebagai fungsi kontrol terhadap BEM UNJ menyatakan bahwa 50% - 60%  mahasiswa menyatakan bahwa merasakan ada kebermanfatan BEM UNJ. Misalnya saja kegiatan NADI, beasiswa yang diberikan oleh TPM kepada mahasiswa UNJ yang tidak mampu membayar uang kuliah. Anggota BEM UNJ berkisar antara 50- 70 orang. 70 orang merupakan mahasiswa yang tercantum namanya sebagai anggota BEM UNJ. Namun yang mampu aktif, rapat anggota, dan mampu merealisasikan hasil rapat anggota berkisar 50-62 orang. Hal ini dikarenakan kesibukan masing-masing anggota. Hal yang terpenting dalam keahlian teknis ialah mampu menuangkan ide dan mampu merealisasikannya. KEAHLIAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA, BEM UNJ sebagai pelayan mahasiswa sangat menyadari banyak masalah dan keluhan yang terjadi dalam keseharian mahasiswa di dunia kampus. Beberapa hal dilakukan untuk menangani masalah dan keluhan tersebut, tak banyak pula penyelesaian masalah dan keluhan mahasiswa mengikuti kebijakan periode sebelumya. Misalnya saja ketika kasus empat mahasiswa hampir tidak jadi mengikuti sidang skripsi karena mengalami kendala dengan KHS, akhirnya BEM UNJ memediasi mahasiswa tersebut untuk menghadap ke Pembantu Rektor I. Selain itu untuk menjaring aspirasi mahasiswa BEM UNJ berkonsolidasi dengan organisasi tingkat fakultas maupun jurusan. Selain itu BEM UNJ saling tukar kegiatan bahkan bekerja sama dengan organisasi internal maupun eksternal kampus. KEAHLIAN KONSEPTUAL, BEM UNJ mampu menuangkan hal-hal yang bersifat konseptual dan mengaplikasikannya sebagai wujud nyata BEM UNJ sebagai wadah pergerakan mahasiswa yang kontributif dan prestatif. Pertama, ialah Membudayakan Baca, Diskusi dan Tulis dengan cara:  Menumbuhkembangkan gerakan-gerakan yang akan menunjang Minat Baca, diskusi dan menulis di lingkar kampus sebagai jati diri Intelektual Mahasiswa. Memahami Permasalahan-permasalahan di dalam maupun luar kampus untuk dicarikan solusinya. Kedua, ialah Menciptakan Budaya Kerja Lembaga yang Sehat , Produktif dan Profesional. Dengan upaya Memiliki Standar Operasional Prosedur di beberapa bidang sesuai dengan kebutuhan. Membuat kebijakan pengawasan, peningkatan dan tindakan terhadap etos kerja pengurus. Memiliki mekanisme fund rising sebagai penyokong Gerakan Lembaga. Ketiga, Mengoptimalkan Pelayanan dan Advokasi Mahasiswa UNJ dibidang Akademik maupun Non-Akademik. Agar terwujud maka harus memiliki tim khusus untuk melayani dan Advokasi Mahasiswa khususnya untuk menunjang kebutuhan Akademik. Keempat, Menjalin Kerja Sama Positif dengan Lembaga Intra maupun Ekstra Kampus. Dilakukan dengan Optimalisasi pola komunikasi efektif dengan elemen OPMAWA sebagai usaha mengoptimalkan Kontribusi.
Perilaku PemimpinèORIENTASI PADA TUGAS, Kegiatan yang dilakukan BEM UNJ tidak hanya berorientasi pada tugas saja, namun lebih kepada masalah yang terjadi di kampus, atau bahkan keluhan mahasiswa. BEM UNJ melakukan pergerakan juga melalui analisa kebutuhan, di samping itu dari segi momentum dan efisiensi waktu juga diperhitungkan oleh BEM UNJ. Jadi BEM UNJ saat ini tidak hanya berorientasi pada program kerja saja.  PEMELIHARAAN KELOMPOK, Terkait pemeliharaan kelompok, BEM UNJ menjalin hubungan yang erat bagi mahasiswa yang berada di organisasi internal kampus maupun eksternal kampus. Menjalin komunikasi yang baik dengan mahasiswa di Fakultas maupun Jurusan. Saat ini BEM UNJ lebih terkesan Inklusif daripada periode-periode sebelumnya. Budaya menegur dan jangan harap ditegur terlebih dahulu itulah budaya yang saat ini ada di BEM UNJ. Berkunjung ke organisasi resimen mahasiswa, yang berujung pada penyampaian keluh-kesah mahasiswa yang aktif di organisasi resimen. MEMPENGARUHI LEWAT SUBORDINAT, Untuk tetap menjalin hubungan yang baik dan menghimpun kekuatan. BEM UNJ selalu menjalin komunikasi dengan mahasiswa yang aktif di organisasi fakultas maupun jurusan. Namun pada periode tahun ini komunikasi ini kurang berjalan baik. Karena fokus utama BEM UNJ tahun ini adalah dapat merangkul dan membaur dengan mahasiswa yang aktif di organisasi mahasiswa di kampus. Biasanya sekretariat BEM UNJ sehabis Maghrib sudah sepi atau bahkan terkunci. Namun pada saat ini BEM UNJ mampu bertahan sampai tengah malam, guna mendengarkan aspirasi teman-teman mahasiswa. PERILAKU REPRESENTATIF, Tahun ini BEM UNJ memiliki tanggung jawab moral yang cukup besar yaitu bagaimana membentuk mahasiswa untuk gemar berbudaya baca, tulis, dan diskusi. Langka nyata untuk mengajak mahasiswa agar aktif ialah mengadakan diskusi-diskusi ilmiah terkait issue nasional bahkan luar negeri atau hanya terkait masalah internal kampus. BEM UNJ juga berlangganan Koran dari enam media guna menambah suplemen pengetahuan. Inilah perlaku representatif yang dilakukan oleh BEM UNJ.
Variabel AntaraèUSAHA dan KOMITMEN BAWAHAN, Usaha dan komitmen bawahan untuk tetap berkontribusi kepada BEM UNJ cukup filosofis. Didasari oleh aktualisasi diri, untuk mengasah kepekaan sosial, bahkan pengembangan potensi baik dari segi ketrampilan, pengetahuan, dan pelajaran bermakna tentang kehidupan. Usahanya yang dilakukan ialah BEM UNJ saat ini lebih membaur, dan tidak inklusif karena pada dasarnya mahsiswa yang berada di organisasi BEM UNJ adalah pelayan mahasiswa dan sepatutnya BEM UNJdapat membaur dan tidak menimbulkan GAP  (jarak) antar sesama mahasiswa. KEAHLIAN BAWAHAN, Bawahan mampu berkoordinasi dengan mahasiswa di tingkat Fakultas maupun Jurusan. Karena pada dasarnya mereka adalah wakil-wakil dari teman-teman mahasiswa tingkat Fakultas maupun Jurusan. Mereka mampu menampung aspirasi mahasiswa, yang terealiasi dengan adanya kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh BEM UNJ. Namun banyak permasalahan yang tidak dapat ditemukan solusinya. ORIENTASI TUGAS ORGANISASI, Setiap kegiatan yang diadakan oleh BEM UNJ menjadi kegiatan bersama. Misalnya saja PSDM memiliki program kerja Community Development. PSDM yang menjadi garda terdepan dalam kegiatan tersebut namun teman-teman dari beberapa Departemen lain pun turut membantu. Jadi orientasi tugas ini didasarkan pada semangat kekeluargaan organisasi. PERAN BAWAHAN dan KEJELASAN SIKAP, Banyaknya anggota BEM UNJ menjadikan peran bawahan menjadi cukup signifikan. Anggota berkisar antara 70 orang. Hanya 50 orang yang mampu aktif dan berkontribusi bagi kemajuan BEM UNJ. Walaupun beberapa anggota lebih fokus terhadap akademisnya namun anggota mampu merealisasikan kegiatan bagi pelayanan mahasiswa. JASA dan SUMBER DAYA DUKUNG, Dalam hal ini jasa dan sumber daya dukungnya ialah setiap elemen kampus. Birokrat kampus yang sangat terbuka terhadap aspirasi mahasiwa menjadi sumber daya dukung bagi kinerja BEM UNJ itu sendiri. Mitra kerja BEM UNJ pun mampu menjalankan amanah dengan bertanggung jawab.
Variabel Hasil AkhirèPENAMPILAN KELOMPOK, Pada awal kepengurusan beberapa anggota dan pengurus belum mampu untuk tampil dan sebagai penampung aspirasi mahasiswa. Setelah BEM UNJ berjalan hampir tengah periode. Beberapa pengurus dan anggota mmapu untuk tampil ke khalayak guna menanmpung aspirasi mahasiswa. PENCAPAIAN TUJUAN, Tujuan BEM UNJ merupakan identitas BEM UNJ itu sendiri. Peran BEM UNJ mensejahterakan mahasiswa. Sebagai pelayan mahasiwa BEM UNJ mampu untuk melayani mahasiswa sebagai wujud nyata dalam rangka mencapai kesejahteraan mahasiswa. BEM UNJ juga harus mampu menjadi wakil mahasiswa hal ini ditampilkan dalam bentuk sebuah pergerakan. KAPABILITAS KELOMPOK, Mahasiswa UNJ memiliki tanggapan postif terhadap keIberadaan Organisasi Pemerintahan Mahasiswa. BEM UNJ yang notabenenya adalah wakil-wakil dari fakultas dan jurusan guna menjadi wadah pergerakan mahasiswa yang kontributi dan prestatif.
BAB IV
                                                                                PENUTUP
            Organisasi BEM UNJ yang dipimpin oleh Mahamad Hadi Kusumah saat ini menjadi organisasi yang inklusif dan sangat terbuka bagi setiap elemen mahasiswa di kampus, seperti mahasiswa secara umum di kampus, pengurus BEM tingkat fakultas dan Jurusan. Saat kepengurusan BEM dipimpin oleh Hadi diakui dan dapat diketahui bahwa BEM UNJ saat ini sudah memberikan dampak yang berarti bagi mahasiswa di kampus. Padahal sebelumnya BEM UNJ itu dianggap oleh kebanyakan mahasiswa sebagai organisasi yang eksklusif, dan terkhusus bagi ketua umum nya sebagai pimpinan organisasi BEM UNJ selama ini kurang bisa berbaur di lingkungan internal kampus, namun saat kepengurusan Hadi saat ini pendapat itu dapat ditepis dan dibangun kembali suatu citra yang baik bagi organisasi dan kepemimpinan dalam organisasi.
            Kegiatan yang dilakukan oleh BEM UNJ merupakan kebutuhan dari seluruh mahasiswa yang ada di kampus, karena sebelum kepengurusan ini berjalan. Di awali dengan penyebaran angket tentang kebutuhan mahasiswa, dan mengadakan analisis terhadap beberapa kegiatan, melihat dari segi waktu dan momentumnya. Saat menjalankan kegiatan di BEM UNJ adanya koordinasi kerjasama yang begitu erat, contohnya saja saat Departemen Kaderisasi melakukan kegiatan MPA, semua pengurus biro dan Departemen ikut membantu terselenggaranya kegiatan tersebut. Saat kepengurusan BEM UNJ berjalan, yang berfungsi mengontrol dan melihat kinerja BEM UNJ secara intens adalah Majelis Tinggi Mahasiswa (MTM), sebagai Lembaga Legislatif mahasiswa tertinggi di kampus, terdiri dari perwakilan mahasiswa dari tiap jurusan dan fakultas. Kehadiran MTM ini dapat mengontrol kinerja kepengurusan BEM UNJ apabila di suatu waktu atau di suatu kegiatan melakukan kesalahan, maka MTM berhak menegur dan mengingatkan untuk perbaikan kinerja, peran dari MTM sangat membantu dalam memperbaiki kinerja BEM UNJ, termasuk kepengurusan tahun 2010-2011 yang dipimpin oleh Hadi, secara khusus kepemimpinan dari saudara Hadi-pun dirasakan ada manfaatnya, secara demokrasi dan dipahami secara awam, Ketua BEM UNJ dapat berbaur ke berbagai pihak yang ada di kampus.


[1] Menurut Mohammad Tahyar, Presiden BEM IKIP Jakarta pertama