Selasa, 05 Juli 2011

Sosiologi Organisasi


BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dalam kajian tentang kepemimpinan organisasi, kami memilih organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta sebagai objek penelitian kami karena BEM UNJ merupakan organisasi pemerintahan mahasiswa (OPMAWA) di tingkat universitas, elemen yang ada di organisasi tersebut berasal dari setiap jurusan dan fakultas. Sosok pemimpin tentu sangat penting bagi kemajuan sebuah organisasi yang dipimpinnya, dimana berkembang atau tidaknya masyarakat tersebut tergantung dari sejauh mana pemimpinnya tersebut mengimplementasikan visi dan misinya ke dalam sebuah realisasi program kerja organisasinya. Namun hal tersebut tentu tergantung pula dari karakter dan jiwa kepemimpinan individu pemimpin itu sendiri. Ketua BEM UNIVERSITAS sebagai sebuah jabatan publik mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, tentu mempunyai wewenang dan tanggungjawab terhadap lingkungan Universitas Negeri Jakarta, sesuai dengan regulasi yang berlaku (hukum formal). Sebagai sebuah pemimpin yang hidup di alam demokrasi, tentunya gaya kepemimpinan pun harus bisa disesuaikan dengan kondisi tersebut. Sebab sebagai sebuah jabatan publik yang dihasilkan dari pemilihan secara langsung oleh anggota/mahasiswa Universitas Negeri Jakarta, setiap keputusan atau kebijakan tentu tidak boleh lepas dari aspirasi mahasiswa Universitas Negeri Jakarta
Alasan kami memilih BEM UNJ adalah karena Organisasi BEM UNJ sangat menarik untuk diteliti dan dipahami lebih dalam lagi, termasuk kami yang sangat tertarik untuk mengetahui lebih luas tentang organisasi BEM UNJ, seperti pemimpin dalam organisasi, gaya kepemimpinan, realisasi visi dan misi organisasi, sejarah berdiri BEM UNJ, profil dan hubungan kerja struktur pengurus BEM UNJ dan kepada BEM tiap jurusan dan BEM tiap Fakutas. Selain itu kami juga ingin mengetahui partisipasi dari mahasiswa di UNJ terhadap keberadaan organisasi BEM UNJ, dan interaksi dari tiap  pengurus BEM UNJ termasuk ketua umum kepada mahasiswa UNJ. Dengan melihat berbagai macam gaya kepemimpinan, kami ingin mengetahui bagaimana gaya dan jiwa kepemimpinan Ketua BEM Universitas Negeri Jakarta pada masa pemerintahan 2010-2011 yang bernama Muhamad Hadi Kusumah.
BAB II
PROFIL BEM UNJ
BEM UNJ letak sekretariatnya di Gedung G Kampus UNJ. Dalam menjalin komunikasi dengan organisasi Fakultas dan Jurusan. Ketua BEM UNJ saat ini adalah Muhamad Hadi Kusumah. BEM UNJ terdiri dari lima Departemen yang dipimpin oleh setiap Kepala Departemen, dan dua biro yang dipimpin Ketua Biro. Ketua organisasi BEM UNJ memiliki Forum Ketua Organisasi yang dapat merangkul organisasi di tingkat fakultas maupun jurusan. PSDM memiliki Aliansi PSDM UNJ agar kebijakan dan konsep pengkaderan UNJ dapat diterapkan juga di tingkat fakultas dan jurusan sebagai guna adanya keberlanjutan estafet pergerakan. Departemen Sosial Politik memiliki Green Force yang siap sedia memperkuat jaringan gerakan mahasiswa dan memperluasnya, melakukan penyikapan masalah sosial. Advokasi Memiliki Tim Pembela Mahasiswa sebagai tim khusus untuk melayani dan Advokasi Mahasiswa khususnya untuk menunjang kebutuhan Akademik dan penunjang pelayanan lembaga. Biasanya TPM ini merupakan wakil dari mahasiswa-mahasiswa tingkat fakultas maupun jurusan.
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta mempunyai sejarah perjalanan yang cukup panjang. Dari mulai perubahan nama dari Senat Mahasiswa IKIP Jakarta, BEM IKIP dan kemudian BEM UNJ, sampai eksistensi keberadaan mereka bagi UNJ itu sendiri bahkan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, mahasiswa merupakan agen of change. Eksistensi mahasiswa mencuat setelah kejadian ’98, yang mana rakyat melalui mahasiswa menuntut adanya reformasi. Saat itu BEM UNJ masih bernama Senat Mahsasiswa IKIP Jakarta (SMIJ). Dibawah pimpinan Henri Basel (mahasiswa IKIP Jakarta), gabungan mahasiswa yang tergabung dalam FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahassiswa Se-Jakarta) pada tanggal 18 Maret 1998 menjadi kelompok pertama yang mendatangi gedung DPR/MPR RI.
Akhirnya Senat Mahasiswa IKIP Jakarta pun berubah menjadi BEM UNJ (Badan Ekssekutif Mahasiswa IKIP Jakarta) pada tanggal 31 Oktober 1998 setelah dilakukannya Musyawarah Besar Luar Biasa (MUBESLUB). Perubahan Senat Mahasiswa IKIP Jakarta menjadi BEM IKIP Jakarta dikarenakan bentuk Senat Mahasiswa yang merupakan produk Kepmen no 0457/U/1990 menjadikan Senat Mahasiswa tidak independen, tidak aspiratif, serta terkesan terkooptasi oleh rektor.[1] Pada tanggal 28 Desember 1999, setelah diadakannya Pemilihan Raya, akhirnya terpilihlah Yudhi Rohman sebagai Ketua BEM UNJ. Selain perubahan nama dari BEM IKIP Jakarta (BEM IJ) menjadi BEM UNJ, membawa pengaruh signifikan terhadap hal-hal lainnya juga. Seperti penggantian nama Presiden BEM menjadi
                                                                                                                    Foto dengan Ketua BEM UNJ Hadi
Ketua Umum dan nama-nama menteri berganti menjadi Kepala Departemen. Setelah kepengurusan BEM UNJ oleh Yudhi Rohman, maka digantikan oleh kepengurusan Dedi Supriyadi. Setelah masa jabatan Dedi habis, BEM UNJ diketuai oleh Sardi Effendi. Berikut kepengurusan setelahnya: BEM UNJ di bawah kepemimpinan Defrizal Siregar, BEM UNJ di bawah kepemimpinan Rahmat Arief Kurniawan, BEM UNJ di bawah kepemimpinan Karyadi, BEM UNJ di bawah kepemimpinan Akmal Diky Hujjatul Islam
BAB III
ANALISIS ORGANISASI BEM UNJ
Secara umum gaya kepemimpinan dikategorikan kedalam 3 jenis, diantaranya : pertama, Otoriter (Authoritarian Leadership), kekuasaan otoriter berdasarkan pada kekuasaan yang mutlak dan penuh, sang pemimpin dalam kepemimpinan ini disebut juga sebagai diktator, bertindak mengarahkan pikiran, perasaan dan prilaku orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditetapkannya. Kedua, Demokratis (Democratic Leadership), yakni gaya atau cara memimpin yang demokratis, dan bukan karena dipilihnya si pemimpin secara demokratis. Gaya yang demokratis seperti ini misalnya saja si pemimpin memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada para bawahan dan pengikutnya untuk mengemukakan pendapatnya, saran dan kritikkannya dan selalu berpegang pada nilai-nilai demokrasi pada umumnya. Ketiga, Kepemimpinan Bebas (Laisez Faire Leadership), Dalam kepemimpinan jenis ini, sang pemimpin biasanya menunjukkan suatu gaya dan prilaku yang pasif dan juga seringkali menghindari dirinya dari tanggung jawab. Disini kami akan melihat bagaimana sikap yang akan diambil Ketua BEM UNJ bila sedang menghadapi masalah dalam organisasinya, lalu apakah Ketua BEM UNJ mau memberikan kesempatan untuk para anggotanya mengeluarkan pendapat pada saat forum berlangsung? Dan bagaimana pendapat para anggota pengurus BEM UNJ terhadap sikap kepemimpinan Ketua BEM UNJ. Setelah kami melakukan beberapa observasi dan wawancara dengan Ketua BEM UNJ, kami mengidentifikasi Pemimpin organisasi BEM UNJ termasuk pada gaya kepemimpinan demokratis karena di dalam BEM UNJ sangat terbuka kesempatan untuk menyuarakan saran, kritikan, dan pendapat baik itu dari internal BEM UNJ itu sendiri dan dari seluruh mahasiswa di UNJ, tidak ada dominasi ataupun warna kepemimpinan yang diktator di dalam organisasi tersebut, Ketua BEM UNJ juga sangat dekat kepada setiap pihak, yakni Seluruh ketua BEM Fakultas dan Jurusan, dan organisasi Unit Kegiatan Mahasiswa yang ada di gedung G.
Pendekatan Organisasi
Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, BEM UNJ menggunakan pendekatan modern dalam menjalankan organisasi. Dalam Pendekatan Modern menyatakan bahwa yang dimiliki saat ini bukan teori mengenai organisasi tetapi way of thinking atau cara berfikir mengenai organisasi, cara melihat dan menganalisa secara lebih tepat dan mendalam, yang dilakukan melalui keteraturan atau regularitas perilaku organisasi, yang hanya berlaku untuk suatu lingkungan atau kondisi tertentu. Dalam hal ini BEM UNJ menjadi wadah perjuangan mahasiswa yang kontributif dan prestatif, sebagaimana yang tercantum dalam visi BEM UNJ itu sendiri. Diwujudkan melalui budaya baca,diskusi, dan tulis. BEM UNJ juga Menciptakan budaya kerja lembaga yang sehat, produktif,dan professional. Mengoptimalisasi pelayanan dan advokasi mahasiswa UNJ dibidang akademik maupun non-akademik. Menjalin dan menjaga kerjasama positif dengan berbagai lembaga intra maupun ekstra kampus.  Desain Stuktur BEM UNJ
Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada suatu organisasi dalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi terbentuk berdasarkan lima bagian organisasi yaitu Strategic Apex, Operating Core, Middle Line, Technostructure, Support Staff. Namun, ke lima bagian dasar tersebut tidak selalu ada secara lengkap dalam sebuah organisasi. Hal ini dikarenakan berbedanya ukuran dan teknologi yang diterapkan pada setiap suatu organisasi.
BEM UNJ merupakan sebuah organisasi terstruktur. BEM UNJ menurut peneliti memiliki lima elemen terstruktur tersebut. Pertama Strategic Apex yaitu pimpinan tingkat puncak yang diberi tanggungjawab keseluruhan untuk organisasi. Tugas utama mereka adalah menegaskan bahwa visi dan misi organisasi berjalan secara efektif dan merekrut orang-orang untuk melakukan pengendalian organisasi. Dalam hal ini BEM UNJ memiliki Hadi Kusuma sebagai ketua organisasi BEM UNJ. Ketua organisasi bertanggung jawab atas seluruh kegiatan BEM UNJ baik yang bergerak di bidang akademik maupun non-akademik. Segala kegiatan harus diketahui dan disetujui oleh ketua organisasi BEM UNJ, dan mengacu kepada visi dan misi organisasi BEM UNJ tersebut. BEM UNJ Berpartisipasi dalam pengkritisan dan pengawalan kebijakan-kebijakan kampus yang erat kaitannya dengan hak-hak mahasiswa. Berpartisipasi dalam pengkritisan dan pengawalan kebijakan-kebijakan DKI Jakarta, dan Nasional yang berkaitan dengan hak-hak mendasar masyarakat. Memberikan kontribusi dalam memonitoring dan mengembangkan organisasi di tingkat fakultas dan jurusan. Kedua adalah Operating Core terdiri dari Kepala-Kepala Divisi yang menghasilkan pekerjaan inti serta menghasilkan kegiatan yang bermanfaat bagi mahasiswa baik kegiatan akademik maupun non-akademik. Beberapa divisi-divisi yang terdapat dalam struktur organisasi BEM UNJ ialah PSDM berfungsi sebagai pembuat kebijakan dan konsep pengkaderan yang terintegrasi guna adanya keberlanjutan estafet pergerakan serta memiliki mekanisme fund rising sebagai penyokong gerakan organsisasi. Litbang berfungsi sebagai pembuat kebijakan pengawasan, peningkatan dan tindakan terhadap etos kerja pengurus. Ketiga Middle Line line  merupakan pihak yang menghubungkan antara strategic apex dan operating core. Dalam pelaksanaannya, pengawasan langsung membutuhkan kontak pribadi antara ketua lembaga dan kepala divisi, sehingga dapat dikontrol dengan baik. Jadi, yang bertindak sebagai middle line dalam BEM UNJ adalah Kepala-kepala departemen. Beberapa departemen yang terdapat dalam struktur BEM UNJ ialah Departemen Dalam Negeri yang berfokus kepada kerja urusan dalam negeri seperti komunikasi, pengawasan, dan penyikapan kebijakan kampus, hubungan dengan birokrat kampus dam masalah-masalah internal UNJ hubungan antara Elemen mahasiswa di UNJ (Opmawa dan UKM) dan pengkaderan seperti Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Universitas. Departemen Advokasi memiliki fokus kerja melayani dan Advokasi Mahasiswa khususnya untuk menunjang kebutuhan Akademik, Memiliki sistem Informasi yang terintegrasi guna menunjang pelayanan Lembaga. Departemen Pendidikan memiliki fokus kerja  mengembangkan isu-isu pendidikan baik internal maupun eksternal UNJ dengan melakukan penyikapan di dalamnya, melakukan kajian-kajian pendidikan kontemporer, optimalisasi tim Education Watch, dan membuat Blue Print peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dan pendidikan alternatif. Departemen Sosial Politik memiliki fokus kerja  menyikapi perkembangan sosial politik terkini dengan pernyataan sikap atau kajian yang diadakan seperta: BBM, memperkuat basis masa dengan adanya tim Aksi Green Force yang siap sedia memperkuat jaringan gerakan mahasiswa dan memperluasnya, melakukan penyikapan masalah sosial. Depatemen Kominfo memiliki fokus kerja agar terciptanya sarana media informasi BEM UNJ seperti buletin Gemas, Website yang on-line dan email yang produktif. 
Keempat adalah technostructure. Mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan bentuk standarisasi tertentu dalam organisasi. BEM UNJ sedikit mengadopsi sistem pemerintahan Negara BEM merupakan Badan Eksekutif Mahasiswa. Jika ada eksekutif maka ada legislatif atau dalam organisasi kampus UNJ yang berperan sebagai pengawas ialah Majelis Tinggi Mahasiswa atau disingkat dengan MTM.  MTM berfungsi membentuk peraturan perundang-undangan, pemilihan ketua BEM UNJ serta standarisasi kegiatan BEM UNJ baik dari segi waktu maupun efektivitas kinerja BEM UNJ. Kelima, support staff adalah memberi jasa pendukung kepada organisasi. BEM UNJ memiliki mitra kerja untuk memberikan kontribusi dalam memonitoring dan mengembangkan organisasi di tingkat fakultas dan jurusan.
Variabel KepemimpinanèSifat dan Keahlian Pemimpin
MOTIVASI dan MANAJERIAL, Peran Ketua Organisasi BEM UNJ mampu bekerja sama dengan para anggota BEM UNJ dan mampu menjalin dan membina hubungan yang baik dengan mahasiswa. Perwakilan-perwakilan mahasiswa dari setiap fakultas maupun jurusan pun dapat menampung aspirasi mahasiswa, walaupun terkadang aspirasi tersebut terkadang tidak terwujud. Dimulai dari rapat kerja yang mampu merombak ulang visi misi BEM UNJ itu sendiri. Pada kepemimpinan yang sekaranng BEM UNJ mampu mendeklarasikan sebagai BEM yang dapat menjadi wadah pergerakan bagi mahasiswa. BEM UNJ turut Berpartisipasi dalam Proses Pengembangan kampus, baik melalui tindakan nyata maupun pewarnaan terhadap Kebijakan Kampus. Memberikan pelayanan dan advokasi terhadap hak-hal mendasar Mahasiswa dalam bidang akademik maupun non-akademik. Berpartisipasi dalam pengkritisan dan pengawalan kebijakan-kebijakan kampus yang erat kaitannya dengan hak-hak mahasiswa, kepentingan masyarakat daerah DKI dan nasional, berkontribusi memonitoring dan mengembangkan organisasi di tingkat fakultas dan jurusan dengan membudayakan Baca, Diskusi, dan Tulis.
KEPERCAYAAN DIRI, Berawal dari tanggapan positif mahasiswa mengenai Organisasi Pemerintahan Mahasiswa (OPMAWA), maka BEM merupakan struktur yang sedikit diadopsi oleh teman-teman  mahasiswa sebagaimana sistem pemerintahan yang sedang berlangsung di Negara ini. Organisasi mahasiswa saat ini mampu memberikan gambaran kehidupan sesungguhnya bahkan memfasilitasi kehidupan demokrasi. Bagi para anggota Organisasi mahasiswa dapat menjadi ajang pembelajaran bagi setiap individu untuk lebih percaya diri menatap masa depan. Mahasiswa tidak sepatutnya mengasingkan diri dari masyarakat namun seharusnya mahasiswa terjun ke masyarakat agar terciptanya masyarakat yang adil dan makmur. TINGKAT KEKUATAN, Menunjuk pada angket MTM tahun 2010. Mahasiswa mulai merasakan adanya kebermanfatan BEM UNJ. Sekitar 50% - 60% responden mengatakan bahwa adanya kebermanfataan yang diberikan oleh BEM UNJ. Awal kepengurusan para pengurus melakukan kunjungan ke setiap Organisasi Mahasiswa yang berada dalam lingkungan kampus. Mengundang dan menjalin kominikasi dengan teman-teman mahasiswa yang berkecimpung di organisasi eksternal kampus, merupakan satu cara untuk membangun kekuatan bagi BEM UNJ. Akhirnya, saat MPA tahun 2010 terwujud lahir  konsep MPA UNJ SATU. KEDEWASAAN EMOSIONAL, Setiap pengurus menjadi panutan bagi pengurus lainnya. Beberapa pengurus memiliki kompetensi memotivasi sehingga tak heran pengurus tersebut menjadi teman cerita berbagi kisah bagi pengurus lain. Ketika ada konflik individu pengurus yang memiliki kompetensi memotivasi inilah yang menjadi penengah dan me-mediasi masalah agar cepat terselesaikan. KEAHLIAN TEKNIS, Kegiatan-kegiatan BEM UNJ merupakan hasil dari penyebaran angket. Kebanyakan kegiatan merupakan solusi dari keluhan mahasiswa. Beberapa kegiatan di adakan dengan melihat segi momentumnya, segi waktu, dan analisa kebutuhan. Beberapa program kerja sempat mundur dari hasil keputusan rapat kerja atau bahkan double kegiatan. Namun hal ini dapat diselesaikan melalui rapat pimpinan. MTM sebagai fungsi kontrol terhadap BEM UNJ menyatakan bahwa 50% - 60%  mahasiswa menyatakan bahwa merasakan ada kebermanfatan BEM UNJ. Misalnya saja kegiatan NADI, beasiswa yang diberikan oleh TPM kepada mahasiswa UNJ yang tidak mampu membayar uang kuliah. Anggota BEM UNJ berkisar antara 50- 70 orang. 70 orang merupakan mahasiswa yang tercantum namanya sebagai anggota BEM UNJ. Namun yang mampu aktif, rapat anggota, dan mampu merealisasikan hasil rapat anggota berkisar 50-62 orang. Hal ini dikarenakan kesibukan masing-masing anggota. Hal yang terpenting dalam keahlian teknis ialah mampu menuangkan ide dan mampu merealisasikannya. KEAHLIAN HUBUNGAN ANTAR MANUSIA, BEM UNJ sebagai pelayan mahasiswa sangat menyadari banyak masalah dan keluhan yang terjadi dalam keseharian mahasiswa di dunia kampus. Beberapa hal dilakukan untuk menangani masalah dan keluhan tersebut, tak banyak pula penyelesaian masalah dan keluhan mahasiswa mengikuti kebijakan periode sebelumya. Misalnya saja ketika kasus empat mahasiswa hampir tidak jadi mengikuti sidang skripsi karena mengalami kendala dengan KHS, akhirnya BEM UNJ memediasi mahasiswa tersebut untuk menghadap ke Pembantu Rektor I. Selain itu untuk menjaring aspirasi mahasiswa BEM UNJ berkonsolidasi dengan organisasi tingkat fakultas maupun jurusan. Selain itu BEM UNJ saling tukar kegiatan bahkan bekerja sama dengan organisasi internal maupun eksternal kampus. KEAHLIAN KONSEPTUAL, BEM UNJ mampu menuangkan hal-hal yang bersifat konseptual dan mengaplikasikannya sebagai wujud nyata BEM UNJ sebagai wadah pergerakan mahasiswa yang kontributif dan prestatif. Pertama, ialah Membudayakan Baca, Diskusi dan Tulis dengan cara:  Menumbuhkembangkan gerakan-gerakan yang akan menunjang Minat Baca, diskusi dan menulis di lingkar kampus sebagai jati diri Intelektual Mahasiswa. Memahami Permasalahan-permasalahan di dalam maupun luar kampus untuk dicarikan solusinya. Kedua, ialah Menciptakan Budaya Kerja Lembaga yang Sehat , Produktif dan Profesional. Dengan upaya Memiliki Standar Operasional Prosedur di beberapa bidang sesuai dengan kebutuhan. Membuat kebijakan pengawasan, peningkatan dan tindakan terhadap etos kerja pengurus. Memiliki mekanisme fund rising sebagai penyokong Gerakan Lembaga. Ketiga, Mengoptimalkan Pelayanan dan Advokasi Mahasiswa UNJ dibidang Akademik maupun Non-Akademik. Agar terwujud maka harus memiliki tim khusus untuk melayani dan Advokasi Mahasiswa khususnya untuk menunjang kebutuhan Akademik. Keempat, Menjalin Kerja Sama Positif dengan Lembaga Intra maupun Ekstra Kampus. Dilakukan dengan Optimalisasi pola komunikasi efektif dengan elemen OPMAWA sebagai usaha mengoptimalkan Kontribusi.
Perilaku PemimpinèORIENTASI PADA TUGAS, Kegiatan yang dilakukan BEM UNJ tidak hanya berorientasi pada tugas saja, namun lebih kepada masalah yang terjadi di kampus, atau bahkan keluhan mahasiswa. BEM UNJ melakukan pergerakan juga melalui analisa kebutuhan, di samping itu dari segi momentum dan efisiensi waktu juga diperhitungkan oleh BEM UNJ. Jadi BEM UNJ saat ini tidak hanya berorientasi pada program kerja saja.  PEMELIHARAAN KELOMPOK, Terkait pemeliharaan kelompok, BEM UNJ menjalin hubungan yang erat bagi mahasiswa yang berada di organisasi internal kampus maupun eksternal kampus. Menjalin komunikasi yang baik dengan mahasiswa di Fakultas maupun Jurusan. Saat ini BEM UNJ lebih terkesan Inklusif daripada periode-periode sebelumnya. Budaya menegur dan jangan harap ditegur terlebih dahulu itulah budaya yang saat ini ada di BEM UNJ. Berkunjung ke organisasi resimen mahasiswa, yang berujung pada penyampaian keluh-kesah mahasiswa yang aktif di organisasi resimen. MEMPENGARUHI LEWAT SUBORDINAT, Untuk tetap menjalin hubungan yang baik dan menghimpun kekuatan. BEM UNJ selalu menjalin komunikasi dengan mahasiswa yang aktif di organisasi fakultas maupun jurusan. Namun pada periode tahun ini komunikasi ini kurang berjalan baik. Karena fokus utama BEM UNJ tahun ini adalah dapat merangkul dan membaur dengan mahasiswa yang aktif di organisasi mahasiswa di kampus. Biasanya sekretariat BEM UNJ sehabis Maghrib sudah sepi atau bahkan terkunci. Namun pada saat ini BEM UNJ mampu bertahan sampai tengah malam, guna mendengarkan aspirasi teman-teman mahasiswa. PERILAKU REPRESENTATIF, Tahun ini BEM UNJ memiliki tanggung jawab moral yang cukup besar yaitu bagaimana membentuk mahasiswa untuk gemar berbudaya baca, tulis, dan diskusi. Langka nyata untuk mengajak mahasiswa agar aktif ialah mengadakan diskusi-diskusi ilmiah terkait issue nasional bahkan luar negeri atau hanya terkait masalah internal kampus. BEM UNJ juga berlangganan Koran dari enam media guna menambah suplemen pengetahuan. Inilah perlaku representatif yang dilakukan oleh BEM UNJ.
Variabel AntaraèUSAHA dan KOMITMEN BAWAHAN, Usaha dan komitmen bawahan untuk tetap berkontribusi kepada BEM UNJ cukup filosofis. Didasari oleh aktualisasi diri, untuk mengasah kepekaan sosial, bahkan pengembangan potensi baik dari segi ketrampilan, pengetahuan, dan pelajaran bermakna tentang kehidupan. Usahanya yang dilakukan ialah BEM UNJ saat ini lebih membaur, dan tidak inklusif karena pada dasarnya mahsiswa yang berada di organisasi BEM UNJ adalah pelayan mahasiswa dan sepatutnya BEM UNJdapat membaur dan tidak menimbulkan GAP  (jarak) antar sesama mahasiswa. KEAHLIAN BAWAHAN, Bawahan mampu berkoordinasi dengan mahasiswa di tingkat Fakultas maupun Jurusan. Karena pada dasarnya mereka adalah wakil-wakil dari teman-teman mahasiswa tingkat Fakultas maupun Jurusan. Mereka mampu menampung aspirasi mahasiswa, yang terealiasi dengan adanya kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh BEM UNJ. Namun banyak permasalahan yang tidak dapat ditemukan solusinya. ORIENTASI TUGAS ORGANISASI, Setiap kegiatan yang diadakan oleh BEM UNJ menjadi kegiatan bersama. Misalnya saja PSDM memiliki program kerja Community Development. PSDM yang menjadi garda terdepan dalam kegiatan tersebut namun teman-teman dari beberapa Departemen lain pun turut membantu. Jadi orientasi tugas ini didasarkan pada semangat kekeluargaan organisasi. PERAN BAWAHAN dan KEJELASAN SIKAP, Banyaknya anggota BEM UNJ menjadikan peran bawahan menjadi cukup signifikan. Anggota berkisar antara 70 orang. Hanya 50 orang yang mampu aktif dan berkontribusi bagi kemajuan BEM UNJ. Walaupun beberapa anggota lebih fokus terhadap akademisnya namun anggota mampu merealisasikan kegiatan bagi pelayanan mahasiswa. JASA dan SUMBER DAYA DUKUNG, Dalam hal ini jasa dan sumber daya dukungnya ialah setiap elemen kampus. Birokrat kampus yang sangat terbuka terhadap aspirasi mahasiwa menjadi sumber daya dukung bagi kinerja BEM UNJ itu sendiri. Mitra kerja BEM UNJ pun mampu menjalankan amanah dengan bertanggung jawab.
Variabel Hasil AkhirèPENAMPILAN KELOMPOK, Pada awal kepengurusan beberapa anggota dan pengurus belum mampu untuk tampil dan sebagai penampung aspirasi mahasiswa. Setelah BEM UNJ berjalan hampir tengah periode. Beberapa pengurus dan anggota mmapu untuk tampil ke khalayak guna menanmpung aspirasi mahasiswa. PENCAPAIAN TUJUAN, Tujuan BEM UNJ merupakan identitas BEM UNJ itu sendiri. Peran BEM UNJ mensejahterakan mahasiswa. Sebagai pelayan mahasiwa BEM UNJ mampu untuk melayani mahasiswa sebagai wujud nyata dalam rangka mencapai kesejahteraan mahasiswa. BEM UNJ juga harus mampu menjadi wakil mahasiswa hal ini ditampilkan dalam bentuk sebuah pergerakan. KAPABILITAS KELOMPOK, Mahasiswa UNJ memiliki tanggapan postif terhadap keIberadaan Organisasi Pemerintahan Mahasiswa. BEM UNJ yang notabenenya adalah wakil-wakil dari fakultas dan jurusan guna menjadi wadah pergerakan mahasiswa yang kontributi dan prestatif.
BAB IV
                                                                                PENUTUP
            Organisasi BEM UNJ yang dipimpin oleh Mahamad Hadi Kusumah saat ini menjadi organisasi yang inklusif dan sangat terbuka bagi setiap elemen mahasiswa di kampus, seperti mahasiswa secara umum di kampus, pengurus BEM tingkat fakultas dan Jurusan. Saat kepengurusan BEM dipimpin oleh Hadi diakui dan dapat diketahui bahwa BEM UNJ saat ini sudah memberikan dampak yang berarti bagi mahasiswa di kampus. Padahal sebelumnya BEM UNJ itu dianggap oleh kebanyakan mahasiswa sebagai organisasi yang eksklusif, dan terkhusus bagi ketua umum nya sebagai pimpinan organisasi BEM UNJ selama ini kurang bisa berbaur di lingkungan internal kampus, namun saat kepengurusan Hadi saat ini pendapat itu dapat ditepis dan dibangun kembali suatu citra yang baik bagi organisasi dan kepemimpinan dalam organisasi.
            Kegiatan yang dilakukan oleh BEM UNJ merupakan kebutuhan dari seluruh mahasiswa yang ada di kampus, karena sebelum kepengurusan ini berjalan. Di awali dengan penyebaran angket tentang kebutuhan mahasiswa, dan mengadakan analisis terhadap beberapa kegiatan, melihat dari segi waktu dan momentumnya. Saat menjalankan kegiatan di BEM UNJ adanya koordinasi kerjasama yang begitu erat, contohnya saja saat Departemen Kaderisasi melakukan kegiatan MPA, semua pengurus biro dan Departemen ikut membantu terselenggaranya kegiatan tersebut. Saat kepengurusan BEM UNJ berjalan, yang berfungsi mengontrol dan melihat kinerja BEM UNJ secara intens adalah Majelis Tinggi Mahasiswa (MTM), sebagai Lembaga Legislatif mahasiswa tertinggi di kampus, terdiri dari perwakilan mahasiswa dari tiap jurusan dan fakultas. Kehadiran MTM ini dapat mengontrol kinerja kepengurusan BEM UNJ apabila di suatu waktu atau di suatu kegiatan melakukan kesalahan, maka MTM berhak menegur dan mengingatkan untuk perbaikan kinerja, peran dari MTM sangat membantu dalam memperbaiki kinerja BEM UNJ, termasuk kepengurusan tahun 2010-2011 yang dipimpin oleh Hadi, secara khusus kepemimpinan dari saudara Hadi-pun dirasakan ada manfaatnya, secara demokrasi dan dipahami secara awam, Ketua BEM UNJ dapat berbaur ke berbagai pihak yang ada di kampus.


[1] Menurut Mohammad Tahyar, Presiden BEM IKIP Jakarta pertama

Kamis, 19 Mei 2011

“Agama dan Budaya”


Latar Belakang
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Dalam kehidupan individu maupun masyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari agama atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta. Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan.
Salah satu persoalan menarik di tengah arus demokratisasi global adalah hubungan antara agama dengan kebudayaan. Keduanya melambangkan kutub realitas, yaitu Tuhan dan manusia. Jika agama bersumber pada wahyu Tuhan yang difirmankan, sebaliknya kebudayaan bersumber pada eksistensi dan karya ekspresi manusia. Persoalan agama dan kebudayaan akan terus berkembang menjadi perdebatan yang serius, sejalan dengan berkembanganya demokratisasi kehidupan manusia yang bersifat global. Partisipasi setiap individu akan semakin besar dan meluas di dalam perbincangan mengenai agama dan kebudayaan, searah dengan makin membesarnya peluang partisipasi rakyat dalam kehidupan bangsa dan negara seperti di Indonesia.[1] Dan saat ini kelompok kami akan mengupas apa yang menjadi pertanyaan kita selama ini, hubungan Agama dan Kebudayaan dan sebaliknya? Apakah kedua kutub realitas tersebut dapat bersatu atau malah menciptakan kerenggangan dalam masyarakat. Kupasan bahasan ini akan dijelaskan melalui makalah yang telah disajikan untuk kita semua..
Pengertian Agama
Berdasarkan sudut pandang kebahasaan yakni bahasa Indonesia pada umumnya, agama dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tidak kacau. Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Jadi fungsi agama dalam pengertian ini memelihara integritas dari seorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan Tuhan, sesamanya, dan alam sekitarnya tidak kacau. Karena itu menurut Hinduisme, agama sebagai kata benda berfungsi memelihara integritas dari seseorang atau sekelompok orang agar hubungannya dengan realitas tertinggi, sesama manusia dan alam sekitarnya. Ketidak kacauan itu disebabkan oleh penerapan peraturan agama tentang moralitas,nilai-nilai kehidupan yang perlu dipegang, dimaknai dan diberlakukan.Kata agama dapat disamakan dengan kata religion dalam bahasa Inggris, religie dalam bahasa Belanda, keduanya berasal dari bahasa latin, religio, dari akar kata religare yang artinya mengikat. Agama itu timbul sebagai jawaban manusia atas penampakan realitas tertinggi secara misterius yang menakutkan tapi sekaligus mempesonakan  Dalam pertemuan itu manusia tidak berdiam diri, ia harus atau terdesak secara batiniah untuk merespons. Dalam kaitan ini ada juga yang mengartikan religare dalam arti melihat kembali kebelakang kepada hal-hal yang berkaitan dengan perbuatan tuhan yang harus diresponnya untuk menjadi pedoman dalam hidupnya.
            Dalam bahasa Arab, agama dikenal dengan kata al-din dan al-milah, mengandung berbagai arti, seperti dapat diartikan sebagai kerajaan, pelayanan,kejayaan,kebiasaan,pengabdian. Sedangkan pengertian al-din yang berarti agama adalah nama yang bersifat umum. Artinya, tidak ditujukan kepada salah satu agama, ia adalah nama untuk setiap kepercayaan yang ada di dunia ini.[2] Secara fenomenologis, agama Islam dapat dipandang sebagai syari’at yang diwajibkan oleh Tuhan yang harus dipatuhinya, karena melalui syari’at itu hubungan manusia dengan Allah menjadi utuh. Cara pandang ini membuat agama berkonotasi kata benda sebab agama dipandang sebagai himpunan doktrin. Adapun agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala sosial yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa terkecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari sistem sosial suatu masyarakat. Agama juga dapat dilihat sebagai unsur dari kebudayaan suatu masyarakat disamping unsur-unsur yang lain, seperti kesenian, bahasa,sistem pencaharian, sistem peralatan, dan sistem organisasi sosial.
Pengertian Budaya
            Kata Kebudayaan, berasal dari kata Budaya yang berasal dari bahasa Sansekerta “buddhayah” bentuk jamak dari budi yang artinya akal budi atau segala sesuatu yang berkaitan dengan akal pikiran, nilai dan sikap mental.[3] Untuk defenisi kebudayaan adalah segala sesuatu hal yang dimiliki oleh manusia di dalam kehidupannya, yang diperoleh dengan belajar dan menggunakan akalnya. Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan-tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam masyarakat  adalah budaya. Tapi kebudayaan tidak saja terdapat dalam hal teknis semata, karena budaya juga terdapat dalam gagasan yang terdapat dalam pikiran yang kemudian terwujud dalam seni, tatanan masyarakat, etos kerja dan pandangan hidup. pengaruh agama terhadap budaya manusia yang immaterial bahwa mitologis hubungan kolektif tergantung pada pemikiran terhadap Tuhan. Interaksi sosial dan keagamaan berpola kepada bagaimana mereka memikirkan Tuhan, menghayati dan membayangkan Tuhan. Pendapat dari Geertz, bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka. Tetapi juga wahyu bukan saja menghasilkan budaya immaterial, tetapi juga dalam bentuk seni suara, ukiran, bangunan.[4] Dapatlah disimpulkan oleh kita bahwa budaya yang digerakkan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang diyakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn dalam bukunya culture, a critical review of concepts and definitions (1952) mengatakan bahwa kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya. C. Kluckhohn dalam karyanya Universal Categories of Culture, mengatakan ada tujuh unsur dalam kebudayaan universal, yaitu: sistem religi dan upacara keagamaan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi dan peralatan, bahasa, kesenian. Salah satu yang akan dideskripsikan adalah Sistem Upacara dan keagamaan. Sistem upacara dan keagaman adalah produk manusia sebagai homo religius. Manusia memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur, tanggapan bahwa diatas kekuatan dirinya terdapat kekuatan lain yang Mahabesar yang dapat menghitam putihkan kehidupannya.[5] Oleh karena itu, manusia takut sehingga menyembahNya dan lahirlah kepercayaan yang sekarang menjadi agama. Untuk membujuk kekuatan besar tersebut agar mau menuruti kemauan manusia, dilakukan usaha yang diwujudkan dalam sistem religi dan upacara keagamaan
Pengertian budaya menurut Melville Herskovits:
”Is a construct describing the total body of belief, behavior, knoledge, sanctions, values, goals that make up the way of life of a people”[6]
(Budaya adalah sebuah kerangka pikir(construct) yang menjelaskan tentang keyakinan, perilaku, pengetahuan, kesepakatan-kesepakatan, nilai-nilai, tujuan yang kesemuanya itu membentuk pandangan hidup (way of life) sekelompok orang. Artinya, budaya dalam perspektif yang cukup luas, mencakup semua aspek kehidupan manusia, yaitu semua yang berkaitan dengan berbagai macam hasil karya manusia mulai dari ilmu pengetahuan, keyakinan,seni, moral, hokum, adapt kebiasaan dan segala bentuk kapabilitas manusia lainnya
Untuk merumuskan konsep kebudayaan dengan suatu defenisi telah banyak diupayakan oleh banyak pihak seperti para ahli. Untuk perumusan konsep Kebudayaan di Indonesia umumnya masyarakat mengenal defenisi yang dirumuskan oleh Koentjaraningrat yakni hasil cipta rasa dan karsa yang bernilai tinggi dan diciptakan oleh manusia. Konsep ini dapat dikatakan bernilai elitis kebudayaan dan mengarah pada suatu budaya etnis tertentu, dengan penggunaan kata bernilai tinggi, dapat dimaknai kalau budaya di kehidupan masyarakat ada yang bernilai tinggi dan ada yang bernilai rendah. Untuk itu kami juga menggunakan defenisi kebudayaan lain yang dirasa bernilai netral, Kebudayaan adalah segala pikiran dan perilaku manusia yang secara fungsional dan disfungsional ditata dalam masyarakatnya.

Hubungan Agama dan budaya Indonesia
            Setiap hal yang ada di kehidupan manusia, baik itu yang dihasilkan manusia dan dilakukan manusia dapat dikatakan sebagai bentuk dan unsur kebudayaan. Manusia hidup dalam suatu sistem pemaknaan yang sangat kompleks, dapat diartikan juga sebagai kebudayaan. Untuk memahami aktivitas kebudayaan dan salah satu elemen terpenting di dalamnya adalah agama, maka dibutuhkan suatu interpretasi. Dan ketika ingin mengetahui tentang kehidupan manusia dalam masyarakat, kita tidak bisa hanya melihat dari satu sisi saja, seperti hanya perilakunya. Namun lebih dari itu, yaitu kita harus mempelajari suatu sistem yang lebih luas dari ide, adat-istiadat,symbol dan institusi-institusi dalam masyarakat. Setiap unsur yang terdapat dalam sistem tersebut, merupakan hal yang rill dan permanen. Dan bentuk konkrit sistem simbolis itu disadari sepenuhnya oleh segenap lapisan masyarakat yang memiliki symbol-simbol, timbul pula ide tentang sebuah kebudayaan sebagai sistem symbol dan kondisi yang objektif. Faktor kondisi yang objektif menyebabkan terjadinya budaya agama yang berbeda-beda walaupun agama yang mengilhaminya adalah sama. Oleh karena itu agama Kristen yang tumbuh di Sumatera Utara di Tanah Batak dengan yang ada di daerah Maluku tidak begitu sama sebab masing-masing mempunyai cara-cara pengungkapannya yang berbeda-beda, bentuk pengungkapan tersebut lewat bahasa, symbol dan kebiasaan masyarakat setempat. Ada juga nuansa yang membedakan Islam yang tumbuh dalam masyarakat dimana pengaruh Hinduisme adalah kuat dengan yang tidak.
Demikian juga ada perbedaan antara Hinduisme di Bali dengan Hinduisme di India, Buddhisme di Thailand dengan yang ada di Indonesia. Jadi budaya juga mempengaruhi agama, budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya. Tapi hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluralisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai manusia beragama (penganut) merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan berbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi setiap agama yang ada.
            Bangsa Indonesia, berdasarkan ideologi Pancasila mengakui enam agama, yang terakhir diakui dan mendapat legalitas,yakni agama Konghucu. Selain kehadiran agama, di Indonesia juga terdapat lebih dari 500 suku bangsa, maka suatu fakta adalah bahwa di Negara ini sekurang-kurangnya ada sekian banyak kepercayaan pula yang tak dapat diabaikan begitu saja.[7] Di dalam semua agama di Indonesia tentu ada sebagian yang tidak mengikuti dengan tepat ajaran yang resmi. Tidak bisa dipungkiri di dalam agama-pun terdapat ajaran-ajaran yang berbeda-beda dipahami oleh penganutnya, sehingga terjadi beberapa perbedaan.
Dalam disertasi ahli Antropologi H.Daeng mengungkapkan bahwa dalam agama Katolik Roma ada bagian yang disebut Religi, sebagian besar pemeluk Agama Islam di Jawa pun tidak sepenuhnya menjalankan agamanya sesuai dengan syariat agama Islam. Mereka secara umum dinamakan orang Islam Abangan atau penganut agama Jawi, sementara para pemeluk agama Islam yang secara taat mengikuti segala ajaran yang berasal dari Al-Qur’an dan hadis, mereka disebut sebagai orang Islam Santri.[8] Terjadinya perbedaan-perbedaan ajaran yang dipahami dan dianut oleh sesama penganut beragama dalam setiap agama, hal ini tidak lepas dari pengaruh kebudayaan yang hidup dan berkembang di suatu masyarakat. Satu contoh lagi, di Kabupaten Samosir tepatnya Pulau Samosir, Sumatera Utara, mayoritas masyarakat disana menganut agama Kristen Protestan dan Katolik, namun sampai saat ini ajaran kepercayaan yang melekat dengan kebudayaan asli masih ada hingga kini, kebudayaan batak yang masih kental di daerah sana mengakibatkan ajaran kepercayaan Batak-pun masih ada. Ajaran yang menganggap nenek moyang orang Batak Sisingamangaraja sebagai Tuhan mereka. dan Ajaran ini dikenal oleh mayoritas masyarakat Batak dan Beragama Kristen sebagai Agama Batak (Parmalim). Bergeser ke daerah tetangganya yakni Sumatera Barat. Filosofi hidup yang berkembang di mayoritas masyarakat Minangkabau sebagai penduduk asli Propinsi Sumatera Barat adalah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, artinya, Adat berdasarkan Syariah dan Syariah berdasarkan Kitab (Hadis/Al-Qur’an), ada karakter tersendiri yang dapat dipahami dari falsafah orang Minang, memang bukan berarti kalau masyarakat Minang memiliki Agama Budaya/adat tersendiri, namun adanya hubungan yang erat antara kebudayaan dan Agama. Kedua hal ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Minang, karena sudah menjadi falsafah hidup mereka. tapi tidak dapat dipungkiri, seiring semakin terjadinya Jaman globalisasi, ada suatu fenomena kalau kebudayaan daerah semakin luntur dan tertinggalkan, oleh karena kebudayaan luar yang masuk ke daerah tersebut. dapat dilihat dari unsur-unsur umum dari kebudayaan, seperti perubahan sistem mata pencaharian tradisional yang semakin redup, sistem teknologi tradisional semakin sedikit penggunaannya, namun ada satu catatan penting yang harus diingat adalah sistem kekerabatan masyarakat Minang yakni Sistem Matrilineal, Sistem perkawinan,prinsip keturunan masih dianut oleh mereka.
Jika kita teliti budaya Indonesia, maka budaya itu  terdiri dari 5 lapisan. Lapisan itu diwakili oleh budaya agama pribumi, Hindu, Budha, Islam dan Kristen.[9]
Lapisan pertama adalah agama pribumi yang memiliki ritus-ritus yang berkaitan dengan penyembahan roh nenek moyang yang telah tiada atau  lebih setingkat yaitu Dewa-dewa suku seperti sombaon di Tanah Batak, agama Merapu di Sumba, Kaharingan di Kalimantan. Berhubungan dengan ritus agama suku adalah berkaitan dengan para leluhur menyebabkan terdapat solidaritas keluarga yang sangat tinggi. Oleh karena itu maka ritus mereka berkaitan dengan tari-tarian dan seni ukiran, Maka dari agama pribumi  bangsa Indonesia mewarisi kesenian dan estetika yang tinggi dan nilai-nilai kekeluargaan yang sangat luhur. Lapisan kedua adalah Hinduisme, yang telah meninggalkan peradapan yang menekankan pembebasan rohani agar atman bersatu dengan Brahman maka dengan itu ada solidaritas mencari pembebasan bersama dari penindasan sosial untuk menuju kesejahteraan yang utuh. Lapisan ketiga adaalah agama Budha, yang telah mewariskan nilai-nilai yang menjauhi ketamakan dan keserakahan. Bersama dengan itu timbul nilai pengendalian diri dan mawas diridengan menjalani 8 tata jalan keutamaan. Lapisan keempat adalah agama Islam yang telah menyumbangkan kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari’ah, ketaatan melakukan shalat dalam lima waktu,kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal-hal yang disumbangkan Islam dalam pembentukan budaya bangsa. Lapisan kelima adalah agama Kristen, baik Katholik maupun Protestan. Agama ini menekankan nilai kasih dalam hubungan antar manusia. Tuntutan kasih yang dikemukakan melebihi arti kasih dalam kebudayaan sebab kasih ini tidak menuntutbalasan yaitu kasih tanpa syarat. Kasih bukan suatu cetusan emosional tapi sebagai tindakan konkrit yaitu memperlakukan sesama seperti diri sendiri. Atas dasar kasih maka gereja-gereja telah mempelopori pendirian Panti Asuhan, rumah sakit, sekolah-sekolah dan pelayanan terhadap orang miskin.
Dipandang dari segi budaya, semua kelompok agama di Indonesia telah mengembangkan budaya agama untuk mensejahterakannya tanpa memandang perbedaan agama, suku dan ras. Disamping pengembangan budaya immaterial tersebut agama-agama juga telah berhasil mengembangkan budaya material seperti candi-candi dan bihara-bihara di Jawa tengah, sebagai peninggalan budaya Hindu dan Buddha. Budaya Kristen telah mempelopori pendidikan, seni bernyanyi, sedang budaya Islam antara lain telah mewariskan Masjid Agung Demak (1428) di Gelagah Wangi Jawa Tengah. Masjid ini beratap tiga susun yang khas Indonesia, berbeda dengan masjid Arab umumnya yang beratap landai. Atap tiga susun itu menyimbolkan Iman, Islam dan Ihsan. Masjid ini tanpa kubah, benar-benar has Indonesia yang mengutamakan keselarasan dengan alam.Masjid Al-Aqsa Menara Kudus di Banten bermenara dalam bentuk perpaduan antara Islam  dan Hindu. Masjid Rao-rao di Batu Sangkar merupakan perpaduan berbagai corak kesenian dengan hiasan-hiasan mendekati gaya India sedang atapnya dibuat dengan motif rumah Minangkabau. Kenyataan adanya legalitas/pengakuan tersebut membuktikan bahwa agama-agama di Indonesia telah membuat manusia makin berbudaya sedang budaya adalah usaha manusia untuk menjadi manusia.
Agama Hindu merupakan agama yang diyakini oleh masyarakat Hindu, yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Weda merupakan kitab suci agama Hindu yang diwahyukan melalui pendengaran rohani para Maha Rsi. Oleh karena itu Weda juga disebut dengan kitab suci SRUTI. Umat Hindu yakin dan percaya bahwa dunia dan segala isinya diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena Cinta Kasih Beliau. Cinta Kasih Tuhan untuk menciptakan sekalian makhluk sering juga disebut dengan Yadnya. Dalam kitab Yajur Weda XXIII,62 disebutkan: “Ayam yajno Bhuvanasya” yang artinya Yadnya adalah pusat terciptanya alam semesta. [10]Penciptaan adalah karya spiritual dari Yang Maha Esa dan sebagai kridanya memperlihatkan kemulianNya. Weda sebagai kitab suci agama Hindu diyakini kebenarannya dan menjadi pedoman hidup Umat Hindu, sebagai sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk waktu-waktui tertentu. Diyakini sebagai kitab suci karena sifat isinya dan yang menurunkannya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa itu sendiri. Weda mengalir dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab Hindu pada masa berikutnya. Dari kitab suci Weda lah mengalir nilai-nilai keyakinan itu pada kitab-kitab seperti; Smerti, Itihasa, Puruna, kitab Agama, Tantra, Darsana, dan Tattwa-tattwa yang diwarisi oleh umat Hindu sampai saat ini.[11]
Dalam kenyataan hidup bermasyarakat maka antara adat/budaya dan agama sering kelihatan kabur dan bahkan sering tidak dimengerti dengan baik. Tidak jarang suatu adat-budaya yang dipraktekkan dalam kehidupan masyarakat dianggap merupakan suatu kegiatan keagamaan, ataupun sebaliknya, suatu kegiatan keagamaan dianggap adalah kegiatan budaya.
Sesungguhnya antara budaya dan agama terdapat segi-segi persamaannya tetapi lebih banyak segi-segi perbedaannya. Segi persamaannya dapat dilihat dalam hal bahwa kedua norma tersebut sama-sama mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat agar tercipta suasana ketentraman dan kedamaian. Tetapi disamping adanya segi persamaan, terdapat juga segi-segi perbedaan. Segi perbedaan itu akan tampak jika dilihat dari segi berlakunya, dimana perwujudan adat-budaya tergantung pada tempat, waktu, serta keadaan sedangkan agama bersifat universal. Kalau diperhatikan, maka agama dengan ajarannya itu mengatur rohani manusia agar tercapai kesempurnaan hidup. Sedangkan adat budaya lebih tampak pengaturannya dalam bentuk perbuatan lahiriah yaitu mengatur bagaiman sebaiknya manusia itu bersikap, bertindak atau bertingkah laku dalam hubungannya dengan manusia lainnya serta lingkungannya, agar tercipta suatu suasana yang rukun damai dan sejahtera. Dalam agama Hindu, antara agama dan adat-budaya terjalin hubungan yang selaras/erat antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi. Karenanya tidak jarang dalam pelaksanaan agama disesuaikan dengan keadaan daerah setempat. Penyesuaian ini dapat dibenarkan dan dapat memperkuat budaya setempat, sehingga menjadikan kesesuaian “adat-agama” ataupun ’budaya-agama’, artinya penyelenggaraan agama yang disesuaikan dengan budaya setempat. Demikianlah terdapat didalam agama Hindu, perbedaan pelaksanaan agama Hindu pada suatu daerah tertentu terlihat berbeda dengan daerah yang lainnya. Perbedaan itu bukanlah berarti agamanya yang berbeda. Agama Hindu di India adalah sama dengan agama Hindu yang ada di Indonesia, namun kuliynya yang akan tampak berbeda.
Kesimpulan
Agama, Budaya dan Masyarakat jelas tidak akan berdiri sendiri, ketiganya memiliki hubungan yang sangat erat dalam melakukan ekspresi dialektikanya, selaras dalam menciptakan ataupun kemudian saling menegasikan. Proses Dialektika Agama terbagi menjadi tiga tahapan. Pertama, energi eksternalisasi yang dimiliki individu dalam bermasyarakat kemudian membentuk sebuah bentuk. Kedua, Objektivitas atas kreasi manusia dan akhirnya berputar kembali dalam bentuk Ketiga, dengan arus informasi yang menginternalisasi kedalam individu-individu. Dalam dialektika ini, bukan berarti stagnan. Hasil eksternalisasi yang ter-Objektivikasi selalu mengalami perkembangan, manusia tidak pernah puas atas hasil yang telah dicapai. Dalam pandangan yang Idealis atu perspektif, manusia memiliki pengandaian yang normatif yang selalu tidak berhenti dengan satu ciptaan. Ke-tidak terjebakan manusia dalam imanensi dan selalu berhadapan dengan keabsurdan membuat manusia dan Agama yang juga berada dalam dialektika ini akhirnya bersifat dinamis. Begitu juga budaya, proses dialektika yang dialami bersama Agama tidaklah jauh berbeda bahkan sama. Tiga bentuk; Eksternalisasi, Objektivikasi dan Internalisasi juga merupakan proses bagaimana budaya terbentuk dan bagaimana ia berhubungan dengan Agama.
Dari uraian diatas dapat pula ditarik kesimpulan lain bahwa Agama merupakan suatu keyakinan akan keberadaan Tuhan yang menjadikan sumber ketentraman dan semangat hidup serta kepadaNya jugalah manusia akan kembali. Salah satu syarat dalam kehidupan manusia yang teramat penting adalah keyakinan, yang oleh sebagian orang dianggap menjelma sebagai agama. Agama ini bertujuan untuk mencapai kedamaian rohani dan kesejahteraan jasmani. Dan untuk mencapai kedamaian ini harus diikuti dengan syarat percaya dengan adanya Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakan dan memelihara semua yang ada di dunia ini.[12]
Dalam ajaran Hindu, agama dan budaya (adat-istiadat) yang berlaku pada suatu daerah terjalin hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. Sepanjang prinsip ajaran Hindu itu tidak berobah dan bertentangan, maka budaya agama yang berkembang dapat dipergunakan sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran suci Weda kepada umat manusia.Dalam pandangan Hindu, budaya daerah yang nilainya positif, yang mendukung kearah terciptanya ketentraman dan kedamaian didalam hidup akan dirangkul dan bukan dianggap sebagai suatu ancaman atau musuh yang harus dimusnahkan dan dicurigai. Dengan dimikan agama dan budaya (adat-istiadat) dapat hidup saling berdampingan, saling mengisi seperti apa yang diharapkan dan diprogramkan oleh pemerintah untuk tetap utuh dan bersatunya bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.
Untuk memahami makna kebudayaan tidak semata-mata berbentuk hal fisik, karena memahami kebudayaan dapat dimaknai lewat berbagai konteks makna, dapat pula dimaknai sebagai suatu symbol,pola hidup, kebiasaan, dan tindakan sosial masyarakat. Dan untuk memahami agama, agama merupakan fakta kultural, terutama untuk wilayah Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan jelas sebagaimana terlihat dalam beberapa kebudayaan daerah di Indonesia seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk menutup dan memberikan point penutup, kami akan menutupnya dengan Pendapat Geertz, bahwa “Agama adalah satu sistem symbol yang bertujuan untuk menciptakan perasaan dan motivasi yang kuat, mudah menyebar dan tidak mudah hilang dari diri seseorang dengan cara membentuk konsepsi tentang sebuah  tatanan umum eksistensi dan melekatkan konsepsi ini kepada pancaran-pancaran faktual dan pada akhirnya perasaan dan motivasi itu akan terlihat sebagai suatu realitas yang unik”.[13]

DAFTAR PUSTAKA
Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik,   Bandung, Pustaka Hidayah, 1998.
Geertz, Clifford, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1992.
Hadiwijono Harun. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.2005
Hasan Tholhach Muhammad. Islam dalam Perspektif Sosio Kultural. Jakarta: Lantabora Press.2000
Kahmad Dadang, Sosiologi Agama, Bandung:PT Remaja Rosda Karya.2000
Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi. Jakarta:PT.Rineka Cipta.2005
Mustopo Habib.Ilmu Budaya Dasar. Surabaya:Usaha Nasional.1983
Pals L.Daniel. Dekonstruksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. Yogyakarta:Ircisod.2001
Ranjabar Jacobus.Perubahan Sosial Dalam Teori Mikro. Bandung:Alfabeta.2008
Sobirin Achmad.Budaya Organisasi.Yogyakarta:UPPM STIM YKPN.2007
Supartono. Ilmu Budaya Dasar.Bogor:Ghalia Indonesia.2004
Tasmara Toto.Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta:Gema Insani.2002





[1] Abdul Munir Mulkhan, Manusia Alquran: Jalan Ketiga Religiositas di Indonesia, Kanisius, Yogyakarta, 2007, hal. 175.
[2] Kahmad Dadang, Sosiologi Agama, Bandung:PT Remaja Rosda Karya.2000.hal.13

[3] Tasmara Toto.Membudayakan Etos Kerja Islami. Jakarta:Gema Insani.2002.hal.161
[4] Pals L.Daniel. Dekonstruksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. Yogyakarta:Ircisod.2001.hal.392
[5] Supartono. Ilmu Budaya Dasar.Bogor:Ghalia Indonesia.2004.
[6] Sobirin Achmad.Budaya Organisasi.Yogyakarta:UPPM STIM YKPN.2007.hal.53

[7] Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi. Jakarta:PT.Rineka Cipta.2005.hal.193
[8] Koentjaraningrat.Pengantar Antropologi. Jakarta:PT.Rineka Cipta.2005.hal.194
[9] Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik,   Bandung, Pustaka Hidayah, 1998.hal.77-79

[10] Hadiwijono Harun. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.2005.hal.17

[11] Hadiwijono Harun. Agama Hindu dan Buddha. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.2005.hal.25

[12] Mustopo Habib.Ilmu Budaya Dasar. Surabaya:Usaha Nasional.1983.hal.59
[13] Pals L.Daniel. Dekonstruksi Kebenaran Kritik Tujuh Teori Agama. Yogyakarta:Ircisod.2001.hal.386

“Agama dan Budaya”